Dalam sebuah diskusi bertema kesetaraan jender, seorang perempuan muda yang feminis menyampaikan pendapatnya dengan berapi-api:

“Dalam semua wilayah, baik publik ataupun domestik, relasi laki-laki dengan perempuan punya hak yang sama untuk menjadi subyek. Dan kalau laki-laki serta pempuannya sadar gender, tidak ada istilah obyek dalam membangun relasi atau mitra. Termasuk di dalamnya relasi istri-suami.”

Belum selesai berbicara, seorang perempuan setengah baya memotong:

“Saya kira Anda over generalisir. Tidak semua lini dalam relasi hubungan lak-laki dengan perempuan punya kans menjadi subyek. Contohnya hubungan badan.”

“Maksud Ibu???” tanya feminis keheranan. Tak lama kemudian perempuan berkerudung itu menjawab dengan tegas:

”Dalam berhubungan badan,hanya laki-laki yang bisa memasuki (menjadi subyek), sedangkan perempuan hanya bisa dimasuki (obyek). Di ranjang, laki-laki dengan perempuan tidak bisa saling memasuki. Di ranjang tidak digunakan bentuk tafa’ala yang berfaidah musyarokah (bersekutu, mitra, setara, saling).

“Sekali lagi, karena yang bisa memasuki hanya laki-laki. Dalam berhubungan, perempuan selalu menjadi maf’ul (obyek), dimasuki. makanya, dalam bahasa Arab, tidak dijumpai “tadakhola” (saling memasuki) utk menyatakan hubungan badan laki-laki perempuan. Tapi cukup “dakhala bi…,” lanjut perempuan yang berpenamilan ibu nyai itu dengan tenang.

Sabar bu nyai, mungkin feminis kita ini belum bersuami.[]