IMAM AL-GHAZALI menceritakan sebuah anekdot menarik yang diambil dari cerita rakyat Yahudi. Tapi saya tidak tahu, di kitab apa Al-Ghazali bercerita. Lho? Iya, saya tidak langsung membaca cerita dari kitab karya Al-Ghazali, tapi dari bukunya Farid Esack, intelektual sunni kelahiran Afrika Selatan. Dia yang bercerita. Saya lupa judul bukunya apa. Yang jelas, saya belum mendengarkan cerita ini dari mulut Hb. Riziek, Abu Bakar Ba’asyir, Arifin Ilham atau Aa Gym.

Ah, lupakan dulu sumber-sumber yang berbau ilmiah itu. Coba simak dulu kisah di bawah ini. Kalau tertarik dan butuh sumbernya, nanti dicari.

Dua orang laki-laki bersepakat untuk sehidup semati dalam pengabdian kepada Allah, dan hidup menyepi di lereng gunung. Suatu hari salah satu dari mereka turun ke kota untuk membeli daging. Di tengah jalan ia bertema dengan seorang pelacur. Lalu ia pergi besamanya untuk mendapatkan pelayanan. Setelah menghabiskan tiga hari tiga malam dengan sang pelacur itu, ia sudah terlanjur malu untuk kembali pada saudaranya. Tapi saudaranya merasa rindu dan khawatir. Ia lalu pergi ke kota, dan saelah tanya sana-sini tentang keberadaannya saudarany, ia menemukannya dalam keadaan yang bisa disebut sabagai situasi penuh kecurigaan. Ia berusaha memeluknya, tapi saudaranya mengaku tidak mengenalnya, karena merasa amat malu. Lalu ia bertkata: marilah saudaraku, aku mengerti keadaanmu, aku sudah tahu ceritanya. Ya, kau tidak pernah kucintai dan kusayangi lebih dari saat ini.

Akhirnya, setelah kawan yang malu itu menyadari bahwa apa yang telah terjadi tidak membuatnya rendah di mata saudaranya,” Imam Ghazali menyimpulkan, ia bangkit dan pulang bersamanya.

Imam Ghazali merujuk kepada ayat di mana Allah merintahkan kepada nabi agar berkata kepada orang-orang yang menentangnya bahwa ia, nabi, terbebas dari apa yang mereka lakukan (al-an’am:216). Imam ghazali tidak menekankan bahwa Allah tidak memerintahkan nabi berkata “aku terbebas darimu”. Tindakan Abu Darda’ juga merujuk kepada ayat ini ketika ditanya: “Apakah Kau membenci saudaramu ketika melakukan begini dan begitu?” Ia menjawab, “Aku hanya benci apa yang dia lakukan, selebihnya ia tetap saudaraku. Pada kesempatan lain Abu Darda’ menjelaskan, “Walaupun saudaramu berubah dan berganti warna, jangan tinggalkan dia karenanya. Karena saudaramu kadang lurus dan kadang bengkok.”