Seratus tahun yang lampau, tepatnya pada hari Minggu, 20 Mei 1908, Dr. Soetomo mengumpulkan beberapa kawannya di salah satu ruang kelas STOVIA. Sejarah mencatat, mereka yang sempat hadir adalah Goenawan Mangoenkoesoemo, Goembrek, Saleh, dan Soeleman. Hari itu, tampak tidak seperti diskusi-diskusi yang biasa mereka lakukan di perpustakaan School tot Opleiding van Inlandsche Artsen. Ketidaksabaran hidup di bawah penjagan terasa menggumpal pada siang itu. Mereka juga gerah dengan kelakuan para pejabat pengreh praja yang hanya memikirkan nasib sendiri. Di situ, di sebuah ruang kelas yang sederhana, Soetomo dan kawan-kawannya sepakat mendirikan perkumpulan Boedi Oetomo. Tujuannya mentas dari problem-problem ketertindasan yang sudah terjadi lebih ari 300 tahun.

Enam tahun kemudian, bertepatan dengan Hari Natal, 25 Desember 1912, tiga orang yang terkenal dengan ‘Tiga Serangkai’; Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo dan Ki Hajar Dewantara menginisiasi berdirinya Nationale Indische Partij. Pada tahun yang sama, di kota Solo, Haji Samanhudi menghimpun pikiran dan tenaga rekan-rekannya dalam wadah Serikat Dagang Islam.

Di Jawa bagian timur, dipelopori oleh KH. Wahab Hasbullah, kelompok santri mengibarkan bendera Nahdlatul Wathan, 1916. Dua tahun kemudian, kelompok yang sama membentuk kelompok studi bernama Tashwirul Afkar yang kemudian menelorkan Nahdlatut Tujjar (Pergerakan Para Saudagar). Kelompok-kelompok di atas bergerak dalam wilayah dan konsentrasi yang berbeda-beda, tetapi semangat dan tujuannya satu-padu, yaitu bangkit dari kubangan kolonialisme kerajaan Belanda.

Pergerakan-pergerakan di atas menggumpal dan benar-benar padu pada tanggal 28 Oktober 1928. Kali ini, kelompok yang ikut serta lebih terbuka dan luas lagi. Mereka mengatasnamakan Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, dll. Kerumunan yang juga dihadiri kaum tua itu berikrar dalam satu sumpah, SUMPAH PEMUDA. Bertanah air satu, Tanah Air Indonesia. Berbangsan satu, Bangsa Indonesia, dan berbahasa satu, Bahasa Indonesia. Demikianlah kira-kira isi dari Sumpah Pemuda.

Penggalan-penggalan sejarah di atas tentu sangat reduktif bila dibandingkan dengan fakta sejarah yang terjadi pada waktu itu. Tetapi, dari catatan di atas, kita bisa melihat dengan jelas bagaimana langkah-langkah para pendahulu bangsa ini berhasil menghimpun pecahan-pecahan kekuatan dalam satu wadah, demi kedaulatan tanah air dan harkat kemanusiaan yang bebas.

Hari ini, dari titik Dr. Soetomo dan kawan-kawan mendirikan Boedi Oetomo, pergerakan-pergerakan untuk satunya Nusantara telah berumur 100 tahun, atau seabad. Mustinya, kekuatan Nusantara yang umurnya telah mencapai satu abad ini, kekuatan dan langkahnya ini mencapai kemapanan dan kematangan.

Tetapi tidak, kekuatan yang telah dirintis dengan berdarah-darah itu sekarang terkoyak, hampir pecah, limbung, dan tak tentu arah. Ironisnya, terjadi di zaman yang menjanjikan kegemilangan, yaitu zaman reformasi, yang hari ini telah genap berumur sepuluh tahun!

Di zaman reformasi ini, kesatuan wilayah sudah tidak utuh, semua kelompok di negeri ini memperdebatkan lagi identitas Nusantara secara alot, alat-alat berbangsa dan bernegara dirumuskan kembali secara radikal. Tak ketinggalan, kekayaan alam negeri diperebutkan. Pendek kata, konflik di pelbagai lini kehidupan negeri ini terjadi dan terus berlangsung di zaman yang dijanjikan gilang-gemilang. Ironis!

Nah, sampai kapan ironisme itu terjadi? Bisakah problem-problem kebangsaan ini diurai, hingga akhirnya menjadi problem terlihat dengan jernih, ditata, dan ditemukan solusinya, keluar dari kubangan multikrisis?

Jawabnya adalah bisa! Karena sebagian problemnya ada pada diri kita sendiri, menempel di pundak bangsa kita sendiri. Artinya, yang bisa menyelesaikan problem-problem yang mendera sekarang ini adalah kita, bangsa Indonesia.

Untuk itu, mari, dengan berkaca pada para pendahulu negeri ini dan dengan bekal bahwa negara ini telah membuang egoisme komunal untuk berdaulat, kita duduk bersama-sama secara jernih, berdiskusi secara terbuka, logis, menerima suara lain, dan beriktikad baik untuk memperbaiki kekeliruan. Mari! Bukankan kita tidak mau terjerambab dua kali kedalam satu kubangan yang sama?