Di sebuah siang yang mendung, seratusan anak muda, laki-laki dan perempuan, berkerumun di halaman rumah Kiai Syarif Usman Yahya, Pondok Pesantren Kempek Cirebon, Jawa Barat. Mereka duduk di kursi plastik, dipayungi tenda sederhana. Sebagian ada yang duduk sila atau selonjor di emperan rumah sang kiai. Sesekali terdengar gelak tawa, memecah siang yang mendung. Posisi duduk mereka yang ”indisipliner” tidak mengganggu kekhusuan pada satu ”titik kecil”, juga tidak mengurangi kesopanan sebuah forum.

”Yang saya kerjakan dengan teman-teman di desa merupakan hal yang sederhana, kecil, mudah, dan murah. Yang susah itu niatnya. Bagaimana tidak, yang kami kerjakan kecil saja. Tapi, hasilnya ingin bermakna dan bermanfaat bagi banyak orang. Susahkan?” demikian ujar seorang lelaki pendek dan kurus yang ikut berkerumun, mulai bercerita.

Kerumunan anak-anak muda yang laki-lakinya berkopyah dan perempuannya berkerudung terus memperhatikan lelaki tadi. Saya yakin, di antara mereka masih ada yang memikirkan ”niat susah” dan ”pekerjaan kecil” yang baru saja dilontarkan sang pencerita yang juga berkopyah.

”BMT bermula dari patungan duit, saya dan haji Iwan. Semuanya berjumlah dua puluh lima juta perak. Duit itu kami gunakan untuk membeli BMT yang bangkrut,” lelaki itu kembali bercerita. Suaranya pelan. Anak-anak muda menengklengkan telinganya untuk bisa mendengar dengan baik.

”Untuk menggerakkan BMT yang kami namai dengan Al-Amin, berbekal sertifikat rumah saya dan haji Iwan, kami ngutang duit 100 juta rupiah pada Bank Muamalat,” katanya sambil menuliskan angka-angka di kertas plano yang ada di samping kanannya.

Kemudian ia melanjutkan, ”Pelan-pelan kami bekerja, pelan-pelan kami dipercaya. BMT yang berdiri pada tahun 2001, sudah memiliki aset tiga milyar pada tahun 2005. Ratusan masyarakat kecil telah menikmati kerja-kerja kecil kami.” suaranya meninggi meninggi, tangannya menulis angka ”tiga milyar” dengan besar, hampir memenuhi selembar plano.

Kisah di atas dilontar pada sebuah forum yang digelar, 6 Februari 2008, PP. Kempek Cirebon, Jawa Barat. Sahibul hajat, PC Lakpesdam NU Kab. Cirebon, menggelar forum tersebut dalam rangka memperingat hari lahir Nahdlatul Ulama ke-82 tahun.

Sang pencerita yang bertubuh kecil dan pendek, berusia sekitar 60-an tahun, adalah seorang novelis kenamaan negeri miskin ini. Ia adalah Ahmad Tohari.

”BMT Kang Tohari ini tidak kalah indah dan bermaknanya dengan Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk,” komentar anak muda di sebelah saya.

Ini hanyalah satu cerita tentang hal yang kecil-kecil tetapi membawa anggur kemaslahatan. Kisah teladan lainnya, kerja-kerja kecil nan bermakna dan bermanfaat, saya jumpai di sebuah majalah.

Di Prajegan, Bondowoso, Jawa Timur, ada kelompok ibu-ibu berjumlah 200 orang. Mereka tergabung dalam majlis taklim al-Maksumy. Umumnya mereka tulang punggung ekonomi keluarga. Profesi mereka, antara lain, pedagang kecil dan buruh tani.

Awalnya pada 2004, banyak anggota majelis yang membutuhkan dana untuk modal usaha. Mereka lantas pinjam ke pihak tertentu dengan bunga besar. Belum lagi, pinjaman baru bisa turun jika ada agunan. Padahal mereka tidak punya apapun untuk dijaminkan. Kalau pinjam ke koperasi atau lembaga keuangan, mereka harus menjadi anggota terlebih dahulu dan dikenai biaya administrasi.

Keluhan demi keluhan akhirnya sampai ke telinga Ruqayyah, sang ketua majelis taklim. “Bermula dari niat kami membantu anggota Majelis Taklim al-Maksumy, walaupun tidak banyak,” ujar Ruqayyah.

Dengan uang pribadi sebesar Rp 10 juta, Ruqayyah meminjami anggotanya sejak empat tahun lalu. Jumlah pinjaman tidak besar, mengingat modal yang terbatas dan skala usaha anggota majelisnya yang juga kecil. Awalnya, paling banyak Rp 500 ribu. Jika mengembalikan pinjaman tepat waktu, selambatnya-selambatnya 10 bulan, ia boleh meminjam lagi Rp 1 juta.

Pengembalian dibayar mencicil, pada pertemuan pengajian seminggu dua kali. Besar cicilan terserah peminjam. Ada yang Rp 50 ribu, Rp 20 ribu, bahkan Rp 5 ribu. Bahkan peminjam yang kebanyakan pedagang bahan makanan pokok, ini tidak dikenai kelebihan sepeser pun.

“Pinjam Rp 1 juta, ya kembalinya Rp 1 juta. Niatnya memang betul-betul untuk meringankan mereka,” ujar Ruqayyah. Kepercayaan dan ikatan emosional dengan jemaah pengajian, adalah jaminannya. Prosedurnya juga tidak formal. “Saya yakin mereka tidak akan lari,” katanya. Namun kendala tetap ada. Misalnya, ada yang lebih 10 bulan belum mengembalikan pinjaman. “Itu beberapa orang saja, karena memang tidak punya,” imbuh ibu seorang putra ini.

Sebelum uang pinjaman dikucurkan, dilakukan survei kecil agar tepat sasaran. “Mereka itu kan tidak punya sumber penghasilan lain,” kata Ruqayyah.

Kini Ruqayyah gembira melihat peningkatan usaha anggota majelisnya. Indikatornya, jumlah peminjam kian menurun. “Atau setidaknya usaha mereka masih bertahan. Karena kalau pinjam ke rentenir, usahanya pasti akan merosot,” ujarnya.

Selain meminjami, Ruqayyah juga menganjurkan anggotanya menabung. Di setiap pertemuan, mereka menyimpan seadanya, mulai dari Rp 500 hingga Rp 10 ribu.

Kisah di atas diselipkan oleh The WAHID Institute di majalah Tempo, 28 Januari – 3 Februari 2008. Oleh para akademisi ilmu sosial dan politik, BMT Al-Amin yang dibidani oleh Ahmad Tohari dan Haji Iwan, dan Hajjah Ruqayyah melalui majlis taklimnya, merupakan bentuk dan kreatifitas “masyarakat sipil” untuk menghindar dari ketergantungan pada negara.

Masyarakat sipil bangun sendiri dari ketidakberdayaan. Mereka berkumpul, berkelompok biar fokus, berembug, bersama-sama menggerakkan media sosial seperti majlis taklim, untuk memecahkan problem hidup sendiri. Kalau ada yang mau membantu diterima dengan tangan terbuka, meskipun datang dari negara. Kalau butuh bantuan, tidak sungkan-sungkan bercerita, meskipun pada negara. Mereka berangkat dari yang kecil, yang remeh temeh. Dari sekedar meminjami tetangga, menabung 500 perak, atau rembug soal usaha lain untuk warga sambil minum teh dan sepiring gorengan pisang.

Yang kecil-kecil, yang berada di sekitar kita, yang kita kenal dengan akrab, sudah mesti digerakkan dengan segenap kemampuan. Kita tidak bisa berharap kepada negara, mereka sedang sibuk sekali. Ada korupsi yang mesti dibasmi, para aparat penegak hukum yang bobrok, ada jembatan dan jalan rusak yang mesti dibangun lagi, banyak sekolah roboh yang mesti juga dipikirkan, transportasi yang tidak layak, dan segudang kewajiban lainnya yang masih terbengkalai. Kasihan sekali mereka.

Kita, masyarakat sipil, sudah mesti berbareng bergerak, memecahkan problem kehidupan, meningkatkan taraf hidup, mewujudkan kesejahteraan ekonomi dan kemandirian berpolitik.

Ahmad Tohari, Haji Iwan, dan Ibu Hajjah Ruqayyah sudah memulai, sudah melangkah pelan-pelan. Tetangganya dan masyarakat sekelilingnya, sudah mendapatkan berkah dari kerjaan kecil-kecil itu. Mungkin, mereka tidak paham betul apa itu konsep masyarakat sipil, masyarakat kewargaan, civil society, atau masyakarat madani. Mereka tidak mendiskusikan apa definisi beragam istilah dengan gegap gempita. Menamai usaha mereka sebagai gerakan masyarakat sipil pun tidak. Mereka menamainya dengan majlis taklim dan BMT. Tapi, mereka, tiga orang desa itu, telah memelopori gerakan masyakarat sipil, mewujudkan kesejahteraan sendiri secara baik dan kompak.

Kita, yang menamakan dan tahu apa itu masyarakat sipil, kapan memulai? Bila sudah memulai, ya alhamdulillah!