RABU sore, 10 Agustus 2005, kami tiba di kantor Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Cabang Yogyakarta. Seorang muda menyambut kami, mukanya berseri-seri. Harits –begitu ia memperkenalkan diri- menjawab uluk salam kami sembari menebar senyum. Kami pun disalaminya satu persatu. Lutfie disalami lebih awal, lalu Afife, saya sendiri, Syarqawi, Najib, Shidqi, Sita –satu-satunya perempuan yang turut serta- juga disalaminya, sama dengan kami yang laki-laki.

Peristiwa penyerbuan kepada Jemaat Ahmadiyah Indonesia di Parung Bogor beberapa waktu lalu menggerakkan kami untuk bersliaturahim ke sana. Kami berempati dan turut prihatin atas peristiwa yang mengoyak rasa kemanusiaan orang yang waras. “Saya ikut rombongan kang Lutfi karena pengen tahu dengan mata kepala saya sendiri kondisi kawan-kawan Ahmadiyah,” ujar Syarqawi, pemuda yang datang dari Madura.