Kalau tidak salah ingat, pada 28 Maret 1962, almarhum Kiai Saifudin Zuhri meresmikan Lesbumi, Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesi, sekaligus melantik almarhum Djamaludin Malik sebagai ketuanya. Usmar Ismail dan Asrul Sani mendapi Djamaludin, Ketua I dan Ketua II. Ini artinya, pada tanggal 28 bulan ini, LESBUMI akan berusia 48 tahun, menjelang setengah abad. Tentu, angka itu belum diambil tahun-tahun ketika LESBUMI mati (!). Kalau tidak salah, Lesbumi dihidupkan lagi pada Muktamar Lirboyo, 1999.

Tidak lama setelah Lesbumi berdiri, masih di tahun 1962, Lesbumi menggelar kongres yang pertamanya, di Bandung. Kira-kira, kongres itu berisi konsolidasi dan rapat kerja.

Zaman itu, di berbagai kesempatan, kalimat-kalimat kunci berbudaya dan berseni “ala NU” diluncurkan dengan deras oleh para aktivis Lesbumi. “KITA TIDAK BERPEGANG PADA SEMBOYAN ‘KATA UNTUK KATA, PUISI UNTUK PUISI’. KITA TIDAK MAU MELEPASKAN SAJAK DARI FUNGSI SOSIAL DAN DAN KOMUNIKATIFNYA. ……” Begitu kira-kira bunyi propaganda kebudayaan Lesbumi.

Bermula dari situ, di lingkungan NU mulai menggerakkan aktivitas-aktiviatas sosial-keagamaan, sosial-kemasyarakatan, sosial-politik, bahkan sosial ekonomi, lewat aktivitas seni. Ini tentu hal yang belum “lazim” di tengah-tengah komunitas NU. Kata sebuah sumber, Asrul Sani pernah menawarkan konsep berkesenian ke PSI, tapi ditolak, karena dianggap liberal. Tapi di kemudian hari, konsep berkesenian dan berkebudayaan Asrul Sani diterima dengan tangan terbuka oleh para kiai yang dinilai tradisionalis dan konservatif. Ini memang tidak masuk akal.

Bisa dibayangkan, main musik saja tidak semua kiai NU memperkenankan. Jangan salah, tidak semua kiai setuju bedug dan kentongan diletakkan di masjid atau di surau, mengiringi ritual ibadah. Sama halnya dengan bermusik, melukis pun para kiai kita menetapkan seabrek aturan. Dan aturan-aturan tersebut tidak berkenaan dengan suka atau tidak, melainkan berdasarkan ajaran agama yang tersebar di lembaran-lembaran kitab kuning yang berjilid-jilid. Bisa dibayangkan, betapa alotnya diskusi para kiai mengenai benda-benda seni. Sehingga, kalau orang atau komunitas lain yang tidak memiliki ikatan apapun dengan NU akan menilai negatif, atau paling tidak “aneh” melihat fenomena yang ada di NU. Karena orang atau komunitas lain itu tidak mengerti. Untuk lebih detail dan jelasnya, Anda bisa melihat hasil keputusan Bahtsul Masail di NU antara tahun 1930-1960-an tentang kesenian.

Dari situasi alam pikir yang tradisionalis, wajarlah ketika Lesbumi meluncurkan film berjudul “PERJALANAN KE TANAH SUCI” karya Djamaluddin Malik (1964) menjadi fenomenal. Bukan itu saja, pada saat itu di negeri film memang menjadi barang “mewah”. Lihat TV saja harus pergi ke kantor kecamatan. Saya tidak tahu, apakah di credit tittle film itu tercantun tulisan Lesbumi sebagai penggarap atau tidak.

Seperti menghadiri pengajian -yang diisi kiai sepuh dan kharismatik- para santri, para pengurus NU di cabang-cabang berduyun-duyun pergi ke bioskop, menonton film. Satu hal yang bukan saja baru, tapi juga tabu. Tentu saja, mereka yang datang adalah orang NU yang kaya.

Banyak pengamat yang komentar, itulah film “yang pertama” kali ditonton orang NU. Komentar bernada sinikal ini mungkin ada benarnya, karena bagi para kiai dan santri saat itu, film itu sejenis dengan benda “malahi“, yang bisa bikin lalai (kepada tuhan) pengguna dan penikmatnya, yang tidak “elok” (haram) ditonton dan dimanfaatkan. Ya, sama seperti gitar, seruling, biola, dll. Pemandangan seperti ini masih banyak berlaku di tengah-tengah komunitas NU.

Tapi dalam waktu yang bersamaan, sebagian kalangan NU mulai mengapresiasi karya seni yang berteknologi (bermesin) tinggi itu. Sejak berkenalan dengan “PERJALANAN KE TANAH SUCI”, sebagian komunitas NU aktif menonton dan mendiskusi film, tidak saja film-film “islami” karya aktivis Lesbumi, tapi juga film yang lain. Bahkan, karena Djamaludin memegang hak distribusi film-film produk Amerika, cabang-cabang NU ikut aktif mendistrubusikan ke daerah-daerah.

Satu hal yang saya pahami kenapa pada waktu itu frekwensi aktivitas di NU begitu tinggi -tidak hanya Lesbumi, Pertanau (sekarang bernama LP2NU) pada zaman itu giat hingga tingkat ranting, banom dan lembaga yang lain saya kita juga demikian- adalah, keikutsertaan NU dalam bidang politik praktis, Partai NU. Merebut jatah kursi kabinet, DPR, dan lain-lain. Sudah barang tentu, pertarungan idiologi masuk di dalamnya.

Lho, kok panjang ya? Maafkan. Padahal saya hanya pengen tanya kabar saja, tidak yang lain. Tanya kepada siapa? Tidak tahu. Tapi Kang Sastro sebagai ketua PP Lesbumi NU, M. Jadul Maula yang saat ini ketua PW Lesbumi DIY, Ahmad Fikri yang menerbitkan buku tentang Lesbumi, Hairus Salim yang mencintai seni atau siapapun bisa menjawab keingintahuan saya.

Lesbumi, how are today?[]