Selepas ngaji, Ahmad dan Zaed tampak asyik ngborol di serambi masjid.

Ahmad: “Ente kok keningnya hitam she? Kenapa?”
Zaed: “Ini namanya atsarus sujud, Mat. Atsarus sujud bisa tampak kalo solatnya maksimal.”
Ahmad: “Maksdumu?”


Zaed: “Yaa… Maksimal. Misalnya selalu solat dhuha 12 rokaat, atau solat witir 11 rakaat.”
Ahmad: “O itu yang ente maksud maksimal. Ente keliru besar?”
Zaed: “Keliru gimana? Jangan sembarangan ente!”
Ahmad: “Ente mengira solat dhuha 12 rokaat dan witir 11 rokaat itu ganjarannya lebih banyak?”
Zaed: “Iya dong. Ma kana aktsara fi’lan, kana aktsara fadhlan, apa saja yang banyak dikerjakan, maka pahalanya juga lebih banyak.”
Ahmad: “Inilah akibat ngaji ndak selesai. Ah, payah!”
Zaed:“Maksudmu?
Ahmad: “Zaed, solat dhuha 8 rokaat itu lebih utama ketimbang 12 rokaat. Begitu pula solat witir, lebih utama 3 rokaat dibanding 11 rokaat.
Zaed: “Kok?”
Ahmad: “Iya, wong keduanya itu perkecualian dari kaidah yang ente sebut tadi. Karena memang demikianlah yang dilakukan Nabi kita.”
Zaed: “Ooooo..”
Ahmad: “Makanya, kalau ngaji sampe tuntas. Jangan niru Amex!”