Tampaknya kali ini organisasi NU ingin menunjukkan predikat organisasi terbesar secara fisikal. Perayaan NU yang didengungkan dengan berbagai kegiatan dan aktivitas lain, mengingatkan saya pada perayaan HUT RI. Selalu saja ada perayaan dan gegap gempita.
Lalu apa yang kita rayakan dari Harlah NU ini? Benarkah usaha dan hasil selama ini layak kita rayakan?

Saya ingin menilik NU dari embrionya, pesantren. Dari sinilah NU lahir. Tetapi, sepertinya, NU saat ini telah kehilangan arah.

Pesantren lebih mementingkan pemberdayaan umat lewat sektor agama, sosial dan pendidikan. Sementara NU? Saya hanya menyaksikan NU berusaha pada jalur politik belaka.
Suatu kali, Din Syamsuddin pernah memuji NU yang telah mampu menempatkan tokoh-tokohnya pada posisi strategis dalam pemerintahan maupun di jabatan politik lainnya. etapi, saya tidak membaca Din memuji kiprahnya pada wilayaha pendidikan, maupun sosial. kenapa?

Terlepas dari subyektivitasnya, karena memang prestasi NU pada bidang itu masih berada di bawah.

Maka dengan Harlah NU kita patut pertanyakan di mana peran pemberdayaan masyarakat pada tataran riil.

* * *
Kamis, tanggal 31 lalu, mungkin ada sedikit dahaga yang terobati. Seorang profesor NU, Pak Maksum, dikukuhkan menjadi guru besar UGM. Dia guru besar di bidang pertanian. Orang NU akademik bisa menelusup pada wilayahnya yang sesungguhnya (pedesan). Ini penting, sebab sangat sedikit akademisi NU yang consern terhadap wilayah ini.

* * *

Dua wilayah berbasis NU, Jateng-Jatim akan menyelenggarakan pemilihan gubernur. Apa yang tampak dari NU dalam hajatan itu? Perebutan kekuasaan.

* * *

Lalu, apa yang layak kita rayakan dari Harlah NU ke-28 kali ini?

salam, gunung kidul, diy.

Munir