Selamat, buat Pak Maksum!
Nama Panjenengan semakin mentereng. Saya ikut bahagia. Semoga menambah ghiroh melawan para pengimpor beras.

Pak Makshum ini orang yang termasuk langka di lingukngan NU. Selain cerdas dan kritis, Professor kita ini sangat baik, mudah akrab dengan siapa saja; akademisi, mahasiswa, kiai, santri, dan tentu saja para petani. Gaya bicaranya yang ceplas-ceplos tapi tetap santun, semakin membuat siapa saja merasa dekat dan nyaman buat lawan bicaranya.

Dua hari sebelum hari pengukuhan, saya menelepon dia, menagih tulisan yang mau dimuat di Jurnal Tashwirul Afkar.

“Wah, Kang, ngapunten. kayaknya tulisan saya terlambat. Sekarang saya masih mempersiapkan pengukuhan guru besar hari rabu,” dia jawab begitu.

“Mohon maklum. Dan tolong doakan saya untuk hari Rabu. Jangan khawatir, saya juga akan mempersiapkan tulisan untuk Afkar tak kalah seriusnya dengan pidatoku di hari pengukuhan. Kasih waktu saya satu minggu lagi, Kang,” Pak Makshum melanjutkan.

“Kang, NU tidak boleh lelah apalagi putus asa dengan masalah pangan. Kita wajib terus menggerakkan para petani NU dengan slogan KEDAULATAN PANGAN. BUKAN KETAHANAN PANGAN seperti dikampamnyekan oleh Negara. KARENA KEDAULATAN PANGAN ITU JUGA MEMIKIRKAN DARI MANA DATANGNYA PANGAN ITU. TERMASUK DI DALAMNYA HALAL ATAU HARAM!. INI NU BANGET. TIDAK ASAL KENYANG!” kata Profesor Makshum suara hari di sela-sela merapatkan (barisan) FSPP (forum silaturahim pesantren-petani), di pesantren Mlangi, Yogyakarta.

Mabruk, Pak Professor.