(catatan ke-2 dari Ayat-ayat cinta. HABIS)

Rabu sore (16/01), pukul 17.00 saya meluncur dengan kereta api menuju Cirebon, dari stasiun gambir. Dari awal, saya meniatkan diri untuk membaca buku selama di kereta. Lumayan ada waktu 2.30 jam. Saya tidak akan tidur. Tidur di pergantian waktu yang ekstrim, dari siang ke malam, pamali. Saya juga tidak akan melamun sambil matanya melihat hamparan sawah, yang sebagian terlihat kuning karena genangan air hujan, di kerawang dan subang, sawah indramayu tak mungkin bisa dilihat, karena sampai sana sudah gelap. Atau melototi kesibukan di stasiun-stasiun kecil dari gambir hingga Bekasi, yang dijejali para penumpang KRL Bogor, Depok, Jakarta, dan Bekasi.

Sebelum meletakkan tas di atas, tangan saya terlebih dahulu merogohnya, mengambil air mineral dan sebentuk “camilan anak sekolahan”, berupa buku, “Ayat-ayat Cinta”. Wwuueekk! Pernyataan gegabah! Tidak semua anak sekolahan suka baca buku dan tidak semua anak yang tidak sekolah tidak suka buku! Entah, saya tergolong yang mana. Bagaimana dengan Anda?

Bismillahirahmanirahim. Berlahan kereta bergerak. Degk-degk… Degk-degk….. Mataku mulai memelototi halaman 83 dan seterusnya. Memasuki stasiun Gondangdia, konsentrasi labil, saya tergoda melihat orang-orang di stasiun dalam kota. Sampai di Jatinegara, saya meletakkan buku di keranjang kecil yang menempel di belakang kursi depan. Di tempat itu, orang biasa menuruh makanan ringan atau jenis air yang botolnya tidak terlalu besar. Di stasiun Jatinegara, saya melihat beberapa orang naik, seorang laki-laki menempati kursi di sampingku. Dia berambut ikal sebahu, berkaca mata tebal, kaos oblong ditutupi yang dilapisi jaket jeans, celananya juga jeans, di sepatunya menempel satu bintang. Dia permisi meletakkan tas di atas. Sebelumnya dia mengambil sesuatu dari tas punggung yang gemerincing oleh semacam gantungan kunci.

Saya agak kaget. Yang keluar dari tasnya itu sebuah buku karya Andrea Hirata yang sedang laris dan ramai dibicarakan. “Laskar Pelangi” judulnya. Melihatnya saya keder. Saya ragu apakah saya mau melanjutkan membaca AAC. Terus terang saja, saya malu menyandingkan buku yang sedang saya baca dengan Lascar Pelangi. Pertama karena buku yang saya baca relatif lama. Kedua, kata orang, buku Laskar Pelangi sangat lebih layak menjadi best seller ketimbang AAC. Meskipun faktanya, penjualan AAC telah jauh meninggalkan Laskar Pelangi (karena AAC 2 tahun lebih dulu terbit). Kita tunggu, di antara keduanya, siapa yang benar-benar jago main di pasar, di diri pembaca yang bebas memilih dan membeli, bebas memuja dan mencela.
***
Saya sebetulnya tergoda untuk tidak melanjutkan karya Kang Abik ini. Terlebih setelah membaca analisisnya Fahri –sang tokoh utama- tentang kiai masjid atau pengampu pesantren di Indonesia (ingat, Indonesia bo!). Tapi, karena saya pengen melihat filmnya, juga masih penasaran (karena dari bab 1 hingga 8 belum menemukan kehebatannya), dan juga berjanji pada diri sendiri untuk menyelesaikan bacaan itu, berjanji untuk meneruskan tulisan tentang AAC di ruang ini, akhirnya saya harus mengalah. Saya mesti menepati janji itu.

Btw, apa seh analisisnya si Fahri?

Friend, dia bilang begini, “… Tidak seperti para kiai di Indonesia yang menyuruh umat mengeluarkan shadaqah jariyah, bahkan menyuruh santrinya berkeliling daerah mencari sumbangan dana dengan berbagai macam cara termasuk menjual kalender, tapi dia sendiri cuma ongkang-ongkang kaki di masjid atau di pesantren.”

Si Fahri melanjutkan, “Ketika seseorang telah disebut ‘kiai’ dia lalu merasa malu untuk turun ke kali mengangkat batu. Meskpun batu itu untuk membangung masjid atau pesantrennya sendiri. Dia merasa itu tugas orang-orang awam dan para santri. Tugasnya adalah mengaji. Baginya, kemampuan membaca kitab kuning ia merasa sudah memberikan segalanya kepada umat. Bahkan merasa telah menyumbangkan yang terbaik. Dengan khutbah di masjid ia merasa paling berjasa. Banyak orang lalai, bahwa Baginda Nabi tidak pernah membaca kitab kuning. Dakwah nabi dengan perbuatan lebih banyak dari dakwah beliau dengan khutbah dan perkataan. Ummul mukminin, Aisyah ra. Berkata, ‘Akhlak nabi adalah Al-Qur’an!’ Nabi adalah Al-Qur’an berjalan. Bani tidak canggung mencari kayu baker untuk para sahabatnya. Para sahabat meneladani apa yang beliau contohkan. Akhirnya mereka juga menjadi Al-Qur’an berjalan yang menyebar ke seluruh penjuru dunia Arab untuk dicontoh seluruh umat. Tapi memang, tidak mudah meneladani akhlak Nabi. Menuntut orang lain lebih mudah daripada menuntut diri sendiri.”

Kalimat-kalimat pandir di atas sebenarnya kalimat liar. Apakah kalimat-kalimat itu diutarakan Fahri kepada Nurul? Atau milik sang narator, Kang Abik?

Kalau saya diminta menjawab pertanyaan itu, maka saya akan berhusnudzon, analisis itu dilontarkan oleh tokoh “FIKTIF” (dalam tanda kutip) bernama Fahri, bukan Kang Abik. Saya masih “percaya”, Kang Abik tidak akan mengeluarkan analisis yang gegabah, tak berdata, dan oleh karena itu pandir. Si Fahri, meskipun mahasiswa S-2 Al-Azhar, penghafal Kitab Suci lengkap dengan tujuh qiroahnya, paham dan lancar menceritakan hadits-hadits atas kisah-kisah mulia dari Nabi Muhammad, tidak melakukan maksiat kepada Yang Maha Pencipta, pekerjaannya juga mulia, yaitu menerjemahkan kitab-kitab berguna, tapi boleh salah kan, bolehlah sesekali terperosok oleh tesisnya yang serampangan, wong dia cuma mahasiswa, sang profesor saja punya salah kok. Betul tidak? Sekali lagi, saya percaya Kang Abik tidak akan melakukan kebodohan yang dalam seperti itu.

Ah, sudahlah saya malas meneruskan komentar novel yang menjengkelkan ini, saya malas mengomentari Fahri yang melakukan stereotif kepada orang Jawa, kepada para aktivis feminis, kepada kulit hitam, kepada israil. Juga malas mengomentari banyak kesalahan cetak dan kualitas bahasa yang rusak. Saya juga tidak mungkin mengomentari kelakukannya Fahri menolong orang dengan cara poligami. Lebih-lebih mengomentari penutup novel ini, bahwa royalty dan pendapatan yang diperoleh dari penjualan buku ini digunakan untuk merintis pembangunan “Pesantren Karya Basmalah”. Tidak! Masih banyak hal yang tidak penting, tapi penting kukerjakan.