setelah jenuh membaca buku AAC di kereta menuju cirebon, saya membuat semacam pernyataan tentang novel AAC. lalu saya lontarkan kepada para kawan via sms. kepada mereka, saya bilang, “sekaraang saya sedang membaca novel ayat-ayat cinta. kesimpulannya, novel ini sangat menjengkelkan. tapi, kenapa makhluk ini jadi sangat laris? mungkin jawabnya adalah, karena kang abik rajin solat dhuha.

saya tak menyangka sms iseng ini direspon dengan antusias. berikut saya tampilkan, tanpa ada sensor, kecuali ada satu yang tidak saya tampilkan.

Maesita Maharani (pembaca sastra, yogyakarta):
khas sinentron islami. tokoh laki-lakinya mimpi jadi laki-laki sempurnagak realistis. jalan ceritanya jadi bercabang-cabang, entahlah. saya terlalu gak suka.

Muhammad Afifi (santri, alumni s2 antropologi ugm, pembaca sastra, madura):
memang iya. novel bagus katanya laskar pelangi.

Nur Ismah (alumni sastra arab iain, editor buku-buku sastra islami di pt lkis pelangi aksara, yogyakarta):
aku malah belum baca, karena asumsiku, aku akan lebih tertarik dengan laskar pelangi. lho, berarti kamu gak rajin solat dhuha dong… hihihi…

Ahmad Suedy (direktur the wahid isntitute, jakarta)
ya, memang.

Fawaid (alumni s2 tafsir hadits uin syarif hidayatullah, pernah penelitian di mesir, pembaca novel, ciputat tangerang):
dan puasa senin-kamis. tapi saya punya kesimpulan lain. karena orang ingin belajar ‘islam’ melalui novel. dan yang suka orang adalah orang yang tidak sempat belajar agama yang kebanyakan tinggal di kota, dan mereka menemukan di aac. saya membelinya sekedar mengobati rasa penasaran.

saya merespon atas jawaban dia begini:
“apa kitab taqrib, siroh nabawiyah serta hadits-haditsnya, kitab-kitab akhlak, dll, perlu kita novelkan?”

Fawaid membalas:
mungkin aja begitu. setahuku, penggemar novel seperti itu remaja kota dan mewabah ke pesantren melalui iklan. di bis kota, pembaca buku aac itu para jilbaber dan wanita rok mini.

Amin Mudzakir (lipi, jakarta):
hehehehe… berarti kang abik meniru al-ghozali waktu nulis ihya.

Shohib Maskur (mahasiswa fisipol ugm, yogyakarta):
aku sudah baca 2 tahun lalu. buku itu hadiah ultah dari temanku. sampe sekarang aku masih tetap dengan pendirianku bahwa novel ini adalah novel yang paling kubenci kubaca.

Aimatul Azkiyah (alumni sastra arab di sudan, mahasiswa s2 sastra arab uin, yigyakarta):
dari awal saya memang gak tertarik sama novel-novel kayak gitu. apalagi karangan habuburahman. saya gak tahu kenap saya bisa begitu.

Pusvyta Sari (alumni sastra prancis UNY, yogyakarta):
hahahaha… gak ada hubungannya salat duha dengan laris manisnya buku. tiap orang punya selera beda-beda. kali ini kamu memang terlalu cepat mengambil kesimpulan. bisa jadi yang kamu pikir menjengkelakan itu justru the great point menurut orang lain.

Nova (santriwati penghafal al-qur’an, mahasiswa hubungan internasional umy, yogyakarta):
iya mas, saya tidak bisa menikmati buku itu.

Mahbub Jamaludin (penulis novel pangeran bersarung dan laskar hizib, yogyakarta):
setuju. aku bahkan baru baca 10-an halaman, sampe fahri naek trem. itu peljaran yang membosankan. saya langsung melemparkannya.

Najib Kailani (mahasiswa s2 antropologi ugm, pengamat sastra islam, yogyakarta):
ente bener.. tapi itu juga menandakan kalau selera umum memang menyukai karya seperti itu, bukan yang serius-serius.

Muhammad Lukman (pembaca novel, ustad di nurul ummah kotagede, yogyakarta):
taukah kau bahwa sekarang dunia begitu menjengkelkan?! amak dunia mimpi adalah candu yang paling sempurna.

Ahmad Fikri (penulis buku humor, penyair, direktur penerbit pt lkis pelangi aksara, yogyakarta):
hehehehe… pram tidak shalat bukunya melegenda je.

dari sekian komentator, yang mengejutkan adalah komentar hanung bramantyo, sutradara yang menggarap buku itu menjadi film. tapi sayang, dia tidak mengizinkan saya untuk mempublikasikan komentarnya itu.

anda juga boleh bersuara. silahkan!