Saya terlambat membaca novel Ayat-ayat Cinta (AAC) karya penulis muda, Habiburrahman El Shirazy. Buku yang saya baca sekarang ini adalah cetakan XI, Januari 2006, cetakan pertamanya Desember 2004. Saya memang baru ngeh membacanya sekarang, saya terpancing lantaran konon filmnya siap tayang dan digarap oleh Hanung Bramantyo, sutradara muda yang sedang muncar, lantaran penulisnya sudah mengantongi royalty 1,5 milyar, lantaran jadi best seller di Asia tenggara. Mmm….!

Dulu, ketika pertengahan 2005 teman-teman di pondok (PP Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta) membincangkan novel itu, saya cuek saja. Terus terang, saya sering apriori dengan kata sifat “islamy” yang menempel di mana-mana. Dan novel ini juga diberi label seperti itu. Saya juga tak menghadiri undangan Pekik (Komunitas Coret) untuk datang di bedah novel itu di MA Krapyak, almamaterku. Bukan apa-apa, jadualnya bentrok dengan jadual ngaji di pondok. Sudah terlalu sering saya bolos. Belakangan saya menyesal karena melewatkan moment tersebut.

Sekarang, saya sedang membacanya, baru sampai bab 4 (Meint Name Ist Aisha). Tapi saya sudah kebelet untuk menuliskan pengalaman saya membaca karya seorang santri desa ini (kebanyakan santri memang datang dari desa kan? Termasuk saya. Pun santri yang dikenal kosmopolit seperti almarhum Nurkholis Madjid atau Gus Dur. Keduanya berasal dari desa, yang mula-mula katro).

Untuk membacanya, saya tidak perlu membeli bukunya. Duitku bulan ini, Januari 2008, banyak keluar. Saya juga pengen nonton produksi Teater Koma yang ke-112, Kenapa Leonardo? (Maret tahun lalu saya menyaksikan Kunjungan Cinta yang cerdas dan kritis di TIM bersama MS Wa’i. Di antara aktornya adalah Butet Kertajasa. Kira-kira dua tahun sebelumnya, saya memonton dengan terpesona lakon Sampek dan Engtay di Taman Budaya Yogyakarta. Dahsyat pertunjukkan itu. Saya betul-betul ikhlas mengeluarkan uang 50 ribu. Ini pertama kali saya memberanikan diri mengeluarkan ¼ uang bulananku untuk pertunjukan seni, yang kata orang tidak banyak manfaatnya. Jumlah uang yang tidak sedikit bagi mahasiswa (Yogya) IAIN seperti saya (Maaf Mr. Amin Abdullah, saya lebih akrab menyebut IAIN ketimbang UIN). Untungnya, saya menulis sedikit tentang Sampek dan Engtay di Buletin Al-Ikhtilaf. Kembalilah modal saya. Saya diberi honor 50 ribu pula oleh LKiS.

Atas pinjaman buku AAC, saya berterima kasih sama Neni Dwi (nama lengkapmu apa seh, Jeng? Sori, aku lupa), Sekretaris PP Lakpesdam NU yang bulan depan sudah berkantor di Departemen Perdagangan. Dia mengagumi novel ini dan mengagumi penulisnya. Tempo hari saya ke Gramedia bersamanya (juga sama Misbah), dan ketika keluar dari toko itu, saya lihat dia menenteng karya lain dari Kang Abik (begitu nama pasar dari Habiburrahman El Shirazy), Ketika Cinta Bertasbih. Di dalam plastiknya juga ada The Secret, entah buku tentang apa, penulisnya juga saya tidak tahu.

Saya cukup senang membaca AAC, salah satunya karena pengetahuanku tentang hal-ihwal Mesir bertambah. Sebelumnya saya mengetahui negeri Musa itu dari para penulis mesir, baik fiksi maupun non-fiksi. Mereka adalah Nawal Sa’dawi (Perempuan di Titik Nol sangat inspiratif), Naguib Mahfudz, Tofik el-Hakim (Tongkat El-Hakim yang Bagus), al-Jabiri, Hasan Hanafi, Nasr Hamid, (Tekstualitas Al-Qur’an yang membuka mataku) dan masih banyak lagi. Selain mereka, saya juga mendapat cerita dari teman-teman Indonesia yang pernah tinggal di sana, Arif Sibro Malisi (teman sekalasku di Krapyak), Anis dan Faiqotul Himmah (adik kelasku di Krapyak), Aguk Irawan Mn (sastrwan aneh yang sering bolak-balik Mesir-Indonesia. Atas dukungan LKiS Yogyakarta, bersama teman-teman NU di Kairo, dia juga pernah menerbitkan Jurnal sastra bernama Kinanah. Saya tidak tahu beberapa lama jurnal itu bertahan hidup. Guk, ente sekarang di mana? Gimana kabarmu, juga istrimu. Katanya sudah punya anak. Siapa namanya? Semoga nama anakmu lebih puitis dan bermakna dari puisi-puisimu, hehehe..), juga Fawaid yang dapat istri di Mesir. Dari fawaid, saya tahu bagaimana sebagiaan orang mesir mengubur jenazah.

Kesanku pertama membaca AAC adalah, bahwa penulisnya memiliki pretensi ilmiah dan dakwah (moralis). Ya, Kang Abik telah memilih media fiksi untuk mentransfer energi ilmiah dan ghirah dakwahnya sekaligus. Pilihan ini sah, dan semua-mua orang, semua-mua penulis, berhak, dan menurutku wajib memilih model, jalan, nilai-nilai, yang dicita-citakannya. Ia juga berhak menuliskan pengetahuannya, angan-angannya, secara terang benderang. Kang Abik boleh berbeda misalnya dengan almarhum Pramudya Ananta Toer, almarhum Ali Akbar Navis, Ahmad Tohari, Seno Gumira, yang suka menyembunyikan data di balik metafora-metafora yang indah, cerdas, dan sarat bermakna. Ini adalah pilihan.

Oleh karena itu, ia berhak mendefinisikan perempuan yang sopan adalah perempuan yang mengekspresikan kegemberiaannya dengan senyum-senyum kecil saja (saya tidak tahu ini ajaran dari mana), bukan tertawa terbahak-bahak (seperti laki-laki), perempuan harus memakai baju longgar (seperti ajaran (orang) Islam, karena kalau ketat, lekuk-lekuknya terlihat. Dengan memakai baju you can see dan celana pendek, Kata Kang Abik, perempuan seperti telanjang.
Karena pilihannya itu juga, Kang Abik, mungkin, merasa harus memboyong segenap ilmu pengetahuannya, ajaran agamanya, ke dalam novelnya secara vulgar, seperti saya berhak mengutip kaidah-kaidah fiqh secara mentah-mentah ke dalam Humor Ngaji Kaum Santri (Pustaka Pesantren, 2004) Tapi, menurut saya, Kang Abik tidak jujur, dan maaf, bahkan kadang tampak naif, baik dia sebagai agamawan (moralis), sebagai ilmuwan, ataupun sebagai laki-laki).
Kenapa demikian?

Karena mengungkapkan kekaguman terhadap Maria lewat tubuhnya, meski dia juga memuji terhadap personalitinya dan otaknya. Dengan mengatakan bahwa “bibir” maria “tipis”, dia melakukan ekploitasi terhadap tubuh perempuan. Kang Abik lupa telah mendefinisikan perempuan dengan sedemikian rupa. Ini ketidaksopanan, Kang. Ini paradok pertama.

Paradok (lebih tepatnya gugatan, bukan paradok) yang kedua adalah, kenapa dia meminjam mulut Maria untuk memuji-muji Al-Qur’an? Apa maksudnya Kang Abik melakukan itu semua? Menurut saya, ini bentuk dari ketidakjujuran dan ketidakjantanan. Tokoh Fachri, menurut saya, sebetulnya lebih pas mengungkapkan keagungan Al-Qur’an. Memang akan lain ceritanya bila yang sedang disajikan Kang Abik adalah kisah nyata, bukan rekaan. Jika demikian, tidak masalah.

Yang lain, Kang Abik mestinya juga membawa atau memperkenalkan budayanya sendiri. Sampai bab ke-4, saya tidak menjumpai, misalnya, dia memberi informasi bahwa budaya Indonesia (pesantren) punya istilah talaqqi, yaitu sorogan. Kang Abik pasti akrab dengan istilah ini. Tidak masalah selanjutnya dia memakai istilah Arab. Seingat saya, Prof. Atho Mudhar yang didikan Barat saja menggunakan istilah sorogan ketimbang private study [Ibu Echa, betul gak ejaannya atau istilahnya?:) ]. Saya lupa bagamana Naguib Mahfudz –sastrawan mesir- menulis novel Gadis Jakarta.

Dengan segenap kekurangannya, insya allah dengan senang hati saya mau melanjutkan pembacaan AAC sampai tuntas, bab 5 hingga akhir. Kelancaran Kang Abik bercerita, membikin enjoy siapa saja untuk ingin membacanya tanpa henti. Tak apalah diganggu dengan foot note yang begitu banyak, yang sebetulnya bisa diminamilisir dengan mengganti istilah Arab yang tidak penting (kekurangannya, rasa dan nuansa Mesir akan berkurang). Maaf bila saya terburu-buru berkomentar, sebaiknya memang mesti tuntas dulu. Dengan menulis lebih “pagi”, sebetulnya saya sedang bersiasat untuk menghindari pikiranku yang dang-kadang donk-donk plus oon. [hamz`, bersambung :):)]