Diceritakan, ada tiga orang kiai menetap dalam satu desa di Jawa. Kiai Mahmud, Kiai Ahmad, dan Kiai Muhammad. Mereka masih saudara, tunggal buyut. Ketiganya memiliki pesantren yang letaknya tidak berjauhan. Meskipun saudara, dan sama-sama NU, ketiganya tampak bersaing dan tidak pernah sama berfatwa, baik fatwa agama, politik, dan kehidupan social lainnya. Pendeknya, mereka selalu berbeda satu dengan lainnya.

Hanya dua hal yang membuat mereka berkumpul, shalat Jumat, shalat Idul Fitri, serta shalat Idul Adha.

Konon, persaingan keras terjadi ketika di pesantren-pesantren muncul trend mendirikan Ma’had Ali. Dan ketiga kiai tersebut tak mau ketinggalan, ramai-ramai mendirikan perguruan tinggi ala pesantren itu.

Yang unik, nama mah’ad milik ketiga kiai tersebut berbeda-beda. Dan bukan sekedar berbeda, tapi mambu persaingan. Coba simak nama ketiga ma’had tersebut.

Ma’had milik Kiai Mahmud diberi nama Ma’had A’li, nama yang lazim. Tapi, Kiai Ahmad memberi nama yang sedikit nyentrik karena memilih kata “A’la”, isim tafdhil (super latif) dari “Ali”, Ma’had A’la. Nah, Kiai Muhammad yang ma’hadnya berdiri belakangan, tak mau kehabisan akal untuk bersaing, di belakang kata ma’had, dibubuhi “ya’lu wala yu’la ‘alaih”. Terpampanglah sebuah nama ma’had di papan pesantren milik Kiai Muhammad, “Ma’had Ya’lu ala yu’la ‘alaih”. Saya tak tahu, ini isim tafdhil dari mana. []