Al-Qur’an menyebut tutup kepala untuk perempuan dengan dua kata. Pertama, Khumur, surt an-Nur ayat 31. Kedua, Jalabib, surat al-Ahdzab ayat 59. Dua kata itu bermakna satu, tutup kepala.

Jilbab, seperti dicatat Nasarudin Umar, Al-Quran dan hadis tidak pernah secara khusus menyinggung bentuk pakaian penutup muka. Bahkan, dalam hadis, muka dengan tegas masuk dalam pengecualian dan dalam suasana ihram tidak boleh ditutupi.
Di kalangan ulama, ayat tentang tutup kepala menimbulkan beragam tafsir. Keragaman itu tidak saja pada bentuk dan cara memakainya. Tapi juga soal hukum memakainya.

Keragaman itu bisa dilihat dari fenomena perempuan muslim. Tidak usah jauh-jauh, kita bisa melihat keragaman tutup kepala perempuan itu di negeri kita sendiri. Ada yang membungkus seluruh bagian kepala sampai bagian dada, bahkan mukanya pun tertutup. Ada yang menutupi seluruh bagian kepala, tapi tidak di bagian dada. Ada yang menutupi seluruh kepala dan dada, tapi melekat, lekuk tubuhnya tampak. Ada yang sekedarnya saja, tidak semua kepala tertutup, demikian juga pada bagian leher. Dan seterusnya, dan seterusnya…

Motif perempuan mengenakan jilbab pun kini demikian beragam. Berjilbab bukan saja urusan agama (tentunya bagi yang orang menyakini bahwa berjilbab adalah tuntutan agama), tapi juga berbusana atau bergaya. Simak saja pengakuan Tari (21) seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi di Yogykarta di bawah ini.

“Sejak duduk di SMA hingga sekarang saya sudah berjilbab. Teman-teman saya di sekolah dulu sampai memanggilku si Jilbab. Karena mungkin pada waktu itu pemakai jilbab bisa dihitung dengan jari, berbeda dengan sekarang. Saya berjilbab karena “diberi” orang tua. Kalau ada orang yang bertanya kenapa saya berjilbab, saya biasanya menjawab karena sudah kebiasan sejak SMA. Susah bagi saya untuk melepaskannya, kalau jilbab ini kulepas, terasa ada yang hilang. Di samping itu, saya juga merasa cantik. Kalau toh memakai jilbab dapet pahala, ya alhamdulillah.”

Bagi orang yang menganggap jilbab itu sebuah tuntutan beragama, maka ia akan kaget mendengarkan penuturan itu. Tapi, pernyataan itu sebuah fenomena yang mungkin terjadi pada banyak orang.

Seorang mahasiswi yang pernah nyantri, sebut saja Fatma (24), menturukan lebih “aneh” lagi, “Jilbab itu sebuah konsep keamanan dan kenyamanan. Artinya hukum menggunaknnya itu relatif. Ia bisa jadi merupakan sebuh kewajiban, kalau keamanan dan kenyamanannya terusik. Dan demikian sebaliknya.“[] (sumber: Hamzah Sahal, Al-Ikhtilaf, Edisi 301/10 Maret 2006))