Akhun: “Hai, Bat, gimana kabarmu?”
Sahabat: “Baik. saya baru kemaren datang dari rumah.”
Akhun:“Oh ya? Gimana kabar bapakmu?”


Sahabat: “Bapakku sudah meninggal, tiga tahun lalu.”
Akhun: “Oh, maaf, saya tak tahu. Memang bapakmu umur berapa?”
Sabahat: “Umur berapa ya…? Tapi yang jelas, bapakku semuran dengan Asrul Sani.”
Akhun: “Asrul Sani? Wah berarti bapakmu seniman dong? Bapakmu tukang bikin film ya? Ckckck…..”
Sahabat: “Enggak kok. Saya malah yakin bapakku tak mengenalnya. Ya, meski kata orang asrul sani seniman NU. Kalau pun tahu, pasti ia dapat dari bukunya syafuddin zuhri. Karena Syafuddin –tokoh idola bapakku- menyebut nama Asrus Sani dalam beberapa tulisannya. Bukan karena bapakku seneng nonton film.”
Akhun: “Lho, terus, bapakmu seorang aktivis?”
Sahabat: “Juga tidak. Tapi bapakku umurnya setahun lebih muda dari Pram.”
Akhun: “Pram? Maksudmu Pramudya Ananta Toer? Sastrawan kesohor negeri ini?”
Sabahat: “Hooh.”
Akhun: “Bapakmu aktivis Lekra?”
Sahabat: “Ah, pertanyaanmu mengada-ada. Wong tadi aku dah bilang kalau bapakku pengagum Syaifuddin Zuhri yang kiai. masa dia aktivis lekra, tempat kumpulnya para PKI. Jaka sembung bawa botol. Gak nyambung, Tol.”
Akhun: “Yaaa… kali aja bapakmu orang NU yang nyentrik, seperti Gus Dur.”
Sahabat: “Dan kalau sama Subagio Sastrowardoyo, bapakku lebih mudah lagi, dua tahun selisihnya.
Akhun: “Kalau ini saya tahu maksudmu. Ente mau ngomong kalau Ente kenal Dian Sastro kan? Jelas mustahil. Seandainya bapakmu kenal Subagio Sastrowadoyo pun, tidak lantas kamu kenal anaknya kan? Dian sastro pasti kabur muntah melihat tampangmu.”
Sahabat: “Uuu syirik-syirik. Gitu aja kok syirik.”
Akhun: “Lho terus apa maksudmu mendekat-dekatkan bapakmu dengan profil para seniman beken itu.”
Sahabat: “Ya, gak ada maksud apa-apa… biar rilek aja. Habis kamu kok tegang banget dan merasa bersalah ketika mendengar bapakku udah meninggal. Biasa aja, Men. Bat, bapakku lahir tahun 1926, sama dengan tahun kelahiran Asrul Sani.”
Akhun: “Terus, apa kaitannya sama Pram, Sastro Wardoyo?”
Sahabat: “Dasar telmi! Piker dewek!”