<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>sahhala</title>
	<atom:link href="http://sahhala.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sahhala.wordpress.com</link>
	<description>aku ombak, aku daun gugur, aku menandai diriku</description>
	<lastBuildDate>Wed, 19 Aug 2009 02:21:22 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='sahhala.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/f85582386650ab7e789229b2230ea5ce?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>sahhala</title>
		<link>http://sahhala.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Ulama NU Belum Satu Kata tentang Bank Syariah</title>
		<link>http://sahhala.wordpress.com/2009/08/19/ulama-nu-belum-satu-kata-tentang-bank-syariah/</link>
		<comments>http://sahhala.wordpress.com/2009/08/19/ulama-nu-belum-satu-kata-tentang-bank-syariah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 02:21:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sahhala</dc:creator>
				<category><![CDATA[minat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sahhala.wordpress.com/?p=464</guid>
		<description><![CDATA[HALAQAH PRA MUKTAMAR
 
Selasa, 18 Agustus 2009 18:38
Jakarta, NU Online
Para ulama Nahdlatul Ulama (NU) rupanya belum satu kata atau belum memiliki kesamaan pendapat tentang keberadaan bank syariah. Pasalnya, di dalam praktiknya, lembaga keuangan berbasis sistem syariat Islam itu ternyata juga banyak mengalami masalah.
Perbedaan pendapat itu mengemuka dalam Halaqah Pra-Muktamar ke-32 NU Komisi Maudlu’iyah Waqi’iyah yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sahhala.wordpress.com&blog=717112&post=464&subd=sahhala&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span style="color:#ff0000;">HALAQAH PRA MUKTAMAR</span><br />
<span style="font-size:14pt;color:#008080;"> </span><br />
<span style="font-size:8pt;color:#ff9900;">Selasa, 18 Agustus 2009 18:38</span></p>
<p>Jakarta, <strong><em>NU Online<br />
</em></strong>Para ulama Nahdlatul Ulama (NU) rupanya belum satu kata atau belum memiliki kesamaan pendapat tentang keberadaan bank syariah. Pasalnya, di dalam praktiknya, lembaga keuangan berbasis sistem syariat Islam itu ternyata juga banyak mengalami masalah.</p>
<p>Perbedaan pendapat itu mengemuka dalam Halaqah Pra-Muktamar ke-32 NU Komisi Maudlu’iyah Waqi’iyah yang diikuti utusan pengurus wilayah NU se-Indonesia serta pengurus lembaga, lajnah dan badan otonom NU, di Hotel Bintang, Jakarta, Selasa (18/8).</p>
<p><span id="more-464"></span>Wakil Ketua Lembaga Takmirul Masajid Indonesia (LTMI NU), Mukhlas Syarkun, menilai, dalam beberapa kasus, bank syariah ternyata tak ada bedanya dengan bank konvensional. Ia menyebut ada “pelanggaran syariah dalam praktik bank syariah”.</p>
<p>Mukhlas menjelaskan, bank syariah memang tidak mengenal bunga (riba). Namun, dalam praktik pemberian kredit, misalnya, diberlakukan sistem agunan. Sementara, tidak semua orang, terutama kaum miskin, yang dapat memberikan agunan untuk mendapatkan kredit.</p>
<p>“Di sinilah bank syariah bisa disebut tidak syar’i (bertentangan dengan syariat Islam) karena hanya orang-orang yang dapat memberikan jaminan (agunan) yang dapat menerima kredit. Sedangkan orang yang sangat miskin, tidak punya apa-apa, tidak bisa memberikan jaminan, tidak bisa menerima kredit,” terang Mukhlas.</p>
<p>Ia justru mengaku lebih sependapat dengan konsep Grameen Bank di Bangladesh yang dikembangkan Muhammad Yunus. Lembaga keuangan Grameen Bank mengembangkan konsep kredit mikro, yaitu pengembangan pinjaman skala kecil untuk usahawan miskin yang tidak mampu meminjam dari bank umum.</p>
<p>Grameen Bank berbeda dengan bank konvensional karena tidak menggunakan system jaminan. Untuk menjamin pembayaran utang, Grameen Bank menggunakan sistem &#8220;kelompok solidaritas&#8221;. Kelompok-kelompok itu mengajukan permohonan pinjaman bersama-sama, dan setiap anggotanya berfungsi sebagai penjamin anggota lainnya, sehingga mereka dapat berkembang bersama-sama.</p>
<p>“Konsep bank seperti ini, menurut saya, lebih syar’i (sesuai syariat Islam) daripada bank syariah sendiri, karena dapat mengangkat (membantu) perekonomian masyarakat miskin yang paling miskin sekalipun,” jelas Mukhlas.</p>
<p>Pendapat berbeda dikemukakan Rais Syuriyah Pengurus Besar NU yang juga Ketua Komisi Maudlu’iyah Waqi’iyah itu, KH Masyhuri Naim. Menurutnya, secara umum, bank syariah tidak bertentangan dengan syariat Islam. Salah satu alasannya, kata dia, tidak adanya bunga bank yang memang diharamkan dalam Islam.</p>
<p>“Hanya, dalam praktiknya memang tidak sepenuhnya baik seperti dalam teorinya sendiri. Tapi, itu wajar saja. Kita (ulama NU) bukan tidak setuju dengan bank syariah. Kita hanya mengkritik kelemahan-kelemahan yang ada dalam praktik bank syariah itu sendiri,” jelas Kiai Masyhuri—begitu panggilan akrabnya.</p>
<p>Karena itu, imbuh Kiai Masyhuri, beragam persoalan seputar perekonomian dan perbankan syariah yang mengemuka dalam halaqah tersebut akan dibahas dan dikaji lebih mendalam pada Muktamar di Makassar, Sulawesi Selatan, Januari 2010 mendatang. (rif)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sahhala.wordpress.com/464/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sahhala.wordpress.com/464/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sahhala.wordpress.com/464/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sahhala.wordpress.com/464/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sahhala.wordpress.com/464/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sahhala.wordpress.com/464/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sahhala.wordpress.com/464/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sahhala.wordpress.com/464/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sahhala.wordpress.com/464/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sahhala.wordpress.com/464/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sahhala.wordpress.com&blog=717112&post=464&subd=sahhala&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sahhala.wordpress.com/2009/08/19/ulama-nu-belum-satu-kata-tentang-bank-syariah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cc4731151302f24ad2dccb510c063080?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sahhala</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jurnal Ilmiah Belum Menjadi Pilihan</title>
		<link>http://sahhala.wordpress.com/2009/08/19/jurnal-ilmiah-belum-menjadi-pilihan/</link>
		<comments>http://sahhala.wordpress.com/2009/08/19/jurnal-ilmiah-belum-menjadi-pilihan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 01:48:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sahhala</dc:creator>
				<category><![CDATA[minat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sahhala.wordpress.com/?p=462</guid>
		<description><![CDATA[  Selasa, 18 Agustus 2009 &#124; 03:58 WIB
Jakarta, Kompas &#8211; Jurnal ilmiah belum menjadi wadah utama para dosen dan peneliti untuk memublikasikan hasil penelitian dan pemikiran-pemikiran mereka. Dosen lebih suka menulis untuk bahan seminar atau artikel di media massa yang lebih mudah penggarapannya.
Seperti diungkapkan dosen Planologi Universitas Trisakti, Jakarta, sekaligus Ketua Bidang Kajian dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sahhala.wordpress.com&blog=717112&post=462&subd=sahhala&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!-- end judul + lead --> <!-- end headline --> <!-- isi berita -->Selasa, 18 Agustus 2009 | 03:58 WIB</p>
<p><span id="article_body">Jakarta, Kompas &#8211; Jurnal ilmiah belum menjadi wadah utama para dosen dan peneliti untuk memublikasikan hasil penelitian dan pemikiran-pemikiran mereka. Dosen lebih suka menulis untuk bahan seminar atau artikel di media massa yang lebih mudah penggarapannya.</p>
<p>Seperti diungkapkan dosen Planologi Universitas Trisakti, Jakarta, sekaligus Ketua Bidang Kajian dan Perencanaan Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia, Yayat Supriatna, Jumat (14/8), menulis di jurnal ilmiah harus berdasarkan riset atau kajian. Secara umum, kenyataannya, dana riset terbatas. Sebagian riset biasanya merupakan proyek kerja sama peneliti di perguruan tinggi dengan berbagai instansi. ”Penulisan hasil riset proyek tersebut masih harus dimodifikasi untuk dapat termuat di jurnal ilmiah,” ujarnya.</p>
<p><span id="more-462"></span>Di sisi lain riset membutuhkan waktu penyusunan dan dana penelitian yang tidak sedikit. Di tengah minimnya kesejahteraan para pengajar, kerja ilmiah dan publikasi tersebut menjadi terkesampingkan. Pemikiran-pemikiran akademisi akhirnya lebih banyak disalurkan lewat seminar yang menempatkan mereka sebagai pakar. Sebagian dosen dan peneliti juga menyampaikan gagasan dan pemikirannya lewat artikel di media massa.</p>
<p>”Begitu terjadi banjir, misalnya, yang muncul kemudian ’banjir’ seminar dan terhenti di situ tanpa implementasi dan pemanfaatan hasil riset sesungguhnya,” ujarnya.</p>
<p><strong>Tambahan penghasilan</strong></p>
<p>Tidak dapat dimungkiri, kerja penelitian proyek, menjadi pembicara dalam seminar, dan menjadi penulis di media memberikan tambahan penghasilan yang sangat dibutuhkan para pengajar di perguruan tinggi. Tidak sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga untuk peningkatan keilmuan mereka.</p>
<p>Hal senada diungkapkan dosen sekaligus pengamat filsafat dan politik pendidikan, Mohammad Abduhzen. Ketua Departemen Litbang Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) tersebut mengatakan, publikasi ilmiah berbasis riset membutuhkan biaya besar. ”Pemikiran akhirnya lebih banyak dituangkan dalam bentuk artikel,” ujar Abduhzen.</p>
<p>Secara umum, Abduhzen berpendapat, penghargaan terhadap karya ilmiah di Tanah Air masih sangat rendah. Kultur akademik belum tumbuh dan belum membudaya di kalangan para akademisi. (INE/ELN)</p>
<p></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sahhala.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sahhala.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sahhala.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sahhala.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sahhala.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sahhala.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sahhala.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sahhala.wordpress.com/462/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sahhala.wordpress.com/462/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sahhala.wordpress.com/462/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sahhala.wordpress.com&blog=717112&post=462&subd=sahhala&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sahhala.wordpress.com/2009/08/19/jurnal-ilmiah-belum-menjadi-pilihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cc4731151302f24ad2dccb510c063080?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sahhala</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengumuman Penerima Beasiswa Liputan Panjang</title>
		<link>http://sahhala.wordpress.com/2009/08/18/pengumuman-penerima-beasiswa-liputan-panjang/</link>
		<comments>http://sahhala.wordpress.com/2009/08/18/pengumuman-penerima-beasiswa-liputan-panjang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 07:48:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sahhala</dc:creator>
				<category><![CDATA[jalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sahhala.wordpress.com/?p=460</guid>
		<description><![CDATA[Eka Tjipta Foundation mengumumkan enam orang penerima beasiswa liputan panjang, dari liputan soal burung &#8220;trulek Jawa&#8221; hingga nasib seorang bocah, kakinya dilindas kereta api akibat penganiayaan bapak sendiri. Masukan enam peserta ini dinilai paling menjanjikan dari total 15 proposal yang masuk.
&#8220;Ketika kami membahas semua proposal, saya tak sangka rapat ini berubah menjadi diskusi mendalam dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sahhala.wordpress.com&blog=717112&post=460&subd=sahhala&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Eka Tjipta Foundation mengumumkan enam orang penerima beasiswa liputan panjang, dari liputan soal burung &#8220;trulek Jawa&#8221; hingga nasib seorang bocah, kakinya dilindas kereta api akibat penganiayaan bapak sendiri. Masukan enam peserta ini dinilai paling menjanjikan dari total 15 proposal yang masuk.</p>
<p>&#8220;Ketika kami membahas semua proposal, saya tak sangka rapat ini berubah menjadi diskusi mendalam dan bermutu. Kami sangat senang bisa mendapatkan proposal-proposal yang kuat. Semua mengesankan. Namun kami toh akhirnya harus menciptakan kriteria dan memilih,&#8221; kata San Gunawan, direktur eksekutif Eka Tjipta Foundation.</p>
<p>San Gunawan ikut dalam rapat seleksi bersama Andreas Harsono, Charles Wiriawan dan Fahri Salam. Penjurian didasarkan pada kompetensi pelamar, kelengkapan proposal serta time frame dan biaya.</p>
<p><span id="more-460"></span>Keenam orang ini adalah peserta dari kursus narasi Eka Tjipta Foundation di Jakarta. Menurut G. Sulistiyanto, Ketua Umum Eka Tjipta Foundation, kursus ini diadakan atas masukan dari beberapa tokoh masyarakat agar Eka Tjipta Foundation membantu para profesional organisasi kemasyarakat maupun organisasi non-pemerintah belajar menulis. Kursus diampu oleh tiga wartawan: Andreas Harsono, Anugerah Perkasa dan Fahri Salam.</p>
<p><strong>Elisabeth Repelita Kuswijayanti (ETF II)</strong> hendak meliput operasi menangkap pembalak liar tahun lalu di daerah hutan Cigugur, Ciamis, dekat Tasikmalaya. Tata hendak menulis soal operasi itu, termasuk penangkapan beberapa aktivis Serikat Petani Pasundan. Ada tuduhan polisi menganiaya para tersangka.</p>
<p><strong>Much. Darisman (ETF III)</strong> hendak meliput sengketa antara warga Kampung Glinseng dan PT Indah Kiat Pulp &amp; Paper di daerah Serang. Ini ekor dari sengketa tanah warga seluas 1.2 hektar yang terletak di kawasan Indah Kiat.</p>
<p><strong>Irma Dana (ETF I)</strong> akan meliput burung &#8220;trulek Jawa&#8221; (vanelus macropterus). Keberadaan trulek Jawa paling akhir dicatat pada tahun 1940, zaman Hindia Belanda, di delta Sungai Citarum. Irma hendak meneliti laporan masyarakat Lumajang, sekitar tiga jam dari Surabaya, soal kemungkinan munculnya &#8220;trulek Jawa&#8221; di sawah-sawah sekitar Lumajang. Burung ini sudah dianggap punah.</p>
<p><strong>Rahmi Fitria (ETF II)</strong> hendak bercerita soal nasib seorang bocah, Endy Tegar Kurniadinata, umur 3.5 tahun, yang dianiaya ayahnya sendiri. Caranya, kaki kanan Tegar dilindaskan kereta api di desa Robahan, Madiun. Kaki Tegar buntung. Ayahnya dipenjara. Rahmi hendak pergi ke Madiun dan melakukan liputan soal tragedi ini.</p>
<p><strong>Hamzah Sahal (ETF II)</strong> menulis profile M. Said Budairy, seorang wartawan-cum-aktivis Nahdlatul Ulama. Budairy pribadi unik. Dia wartawan sekaligus aktivis Muslim. Budairy ikut mendirikan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia maupun Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia NU.</p>
<p><strong>Indra Poernomo (ETF III)</strong> akan melakukan upaya investigasi perdagangan satwa liar di Jakarta. Dia ingin tahu bagaimana bisnis ini digerakkan? Bagaimana operasi-operasi melawan bisnis ini selalu gagal? Siapa aktor bisnis ilegal ini? Apa hubungannya dengan bisnis narkotika dan obat keras?</p>
<p>G. Sulistiyanto mengucapkan selamat kepada para penerima beasiswa. &#8220;Ini proyek pemberian beasiswa liputan pertama kali dari Eka Tjipta Foundation. Bila pilot project ini dianggap berhasil, kami hendak mengembangkan dan memperluasnya,&#8221; kata Sulistiyanto.</p>
<p>Peserta bisa menawarkan naskah ini untuk diterbitkan di media mana pun, termasuk media milik organisasi mereka masing-masing. Eka Tjipta Foundation memiliki hak memakai naskah-naskah karya peserta untuk keperluan penerbitan ETF.</p>
<p><a href="http://www.ekatjiptafoundation.org/?s=about&amp;c=indonesia">Eka Tjipta Foundation</a> adalah organisasi amal milik pengusaha Eka Tjipta Widjaja serta anak-anak dan cucu-cucunya. Ia bergerak di bidang pendidikan dan lingkungan hidup. Keluarga ini adalah pemegang saham utama kelompok Sinar Mas. Ketua badan pengurus yayasan adalah G. Sulistiyanto.</p>
<p>Anugerah Perkasa wartawan harian Bisnis Indonesia. Andreas Harsono seorang wartawan, blogger, periset, periset, kini juga ketua Yayasan Pantau, di Jakarta. Charles Wiriawan adalah manajer program pendidikan Eka Tjipta Foundation. Fahri Salam seorang wartawan freelance, berafiliasi pada Yayasan Pantau. (http://www.ekatjiptafoundation.org/index.php?id=45)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sahhala.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sahhala.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sahhala.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sahhala.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sahhala.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sahhala.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sahhala.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sahhala.wordpress.com/460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sahhala.wordpress.com/460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sahhala.wordpress.com/460/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sahhala.wordpress.com&blog=717112&post=460&subd=sahhala&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sahhala.wordpress.com/2009/08/18/pengumuman-penerima-beasiswa-liputan-panjang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cc4731151302f24ad2dccb510c063080?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sahhala</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sulit Buat Jurnal Internasional</title>
		<link>http://sahhala.wordpress.com/2009/08/13/sulit-buat-jurnal-internasional/</link>
		<comments>http://sahhala.wordpress.com/2009/08/13/sulit-buat-jurnal-internasional/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 07:06:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sahhala</dc:creator>
				<category><![CDATA[minat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sahhala.wordpress.com/?p=456</guid>
		<description><![CDATA[Kamis, 13 Agustus 2009 &#124; 03:42 WIB
Jakarta, Kompas &#8211; Jurnal-jurnal ilmiah yang dikelola perguruan tinggi masih sulit untuk ditingkatkan menjadi jurnal internasional. Peningkatan kualitas dan pembiayaan menjadi persoalan utama.
Direktur Riset dan Kajian Strategis Institut Pertanian Bogor (IPB), Rabu (12/8), Arif Satria menyatakan, ada 28 jurnal di IPB. Empat jurnal berakreditasi nasional dan 11 jurnal dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sahhala.wordpress.com&blog=717112&post=456&subd=sahhala&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kamis, 13 Agustus 2009 | 03:42 WIB</p>
<p><span id="article_body">Jakarta, Kompas &#8211; Jurnal-jurnal ilmiah yang dikelola perguruan tinggi masih sulit untuk ditingkatkan menjadi jurnal internasional. Peningkatan kualitas dan pembiayaan menjadi persoalan utama.</p>
<p>Direktur Riset dan Kajian Strategis Institut Pertanian Bogor (IPB), Rabu (12/8), Arif Satria menyatakan, ada 28 jurnal di IPB. Empat jurnal berakreditasi nasional dan 11 jurnal dalam proses untuk akreditasi nasional. Sebuah jurnal yang sudah terbit sejak tahun 1994, Jurnal Hayati, sedang diupayakan menjadi jurnal internasional.</p>
<div id="attachment_457" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-457" title="COV AFKAR 21" src="http://sahhala.files.wordpress.com/2009/08/cov-afkar-21.jpg?w=300&#038;h=186" alt="Sampul Jurnal Tashwirul Afkar edisi 21. Sampul ini ditambah saya sendiri." width="300" height="186" /><p class="wp-caption-text">Sampul Jurnal Tashwirul Afkar edisi 21. Sampul ini ditambah saya sendiri.</p></div>
<p>Arif mengatakan, tidak mudah membuat sebuah jurnal menjadi jurnal internasional. Umumnya, adalah dengan memasukkan jurnal ke dalam situs Spocus, yang merupakan situs web database abstrak dan citation terbesar dengan data bersumber dari literatur-literatur yang dievaluasi oleh peer.</p>
<p><span id="more-456"></span>Ada pula persyaratan terkait dengan kualitas jurnal, seperti terbit berkala dan editing yang bagus serta peer review yang melibatkan akademisi internasional atau dari luar negeri. Pemuatan dalam database Spocus terkait dengan citation (menjadi acuan bagi para peneliti).</p>
<p>”Setelah sebuah jurnal memenuhi persyaratan Spocus, setiap tahunnya harus membayar 2.500 dollar AS,” ujarnya.</p>
<p><strong>Belum jadi tradisi</strong></p>
<p>Selama ini pengembangan kualitas jurnal dan biaya penerbitan menjadi permasalahan. Apalagi di Indonesia, memublikasikan hasil riset belum menjadi tradisi.</p>
<p>Jurnal ilmiah hidup dengan pembiayaan para penulis atau sponsor (biasanya lembaga pemberi dana). Iklan tidak diperbolehkan. Penjualan jurnal ilmiah kepada masyarakat hanya cukup untuk menutupi biaya cetak. Untuk satu kali penerbitan jurnal, misalnya, dibutuhkan biaya Rp 15 juta.</p>
<p>Perguruan tinggi akan kesulitan kalau harus mendorong jurnal ilmiah menjadi berkelas internasional hanya dengan mengandalkan dana peneliti. Oleh karena itu, bantuan</p>
<p>Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi berupa dana Rp 150 juta untuk mengembangkan jurnal internasional merupakan angin segar.</p>
<p>Institut Teknologi Bandung (ITB) juga tengah mengupayakan jurnal-jurnal ilmiahnya bertaraf internasional. Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kemitraan ITB Prof Indratmo Soekarno secara terpisah mengatakan, di ITB, dari</p>
<p>32 jurnal ilmiah, dua di antaranya sudah jurnal internasional. Saat ini dua jurnal lainnya tengah diupayakan menjadi berkelas internasional.</p>
<p>Tidak mudah menciptakan jurnal internasional. Editor harus betul-betul pilihan. Untuk jurnal internasional ITB Journal of Science, naskah yang masuk datang dari peneliti di berbagai negara dan diperiksa kelayakannya oleh para editor. Para editor tersebut tidak hanya dari Indonesia saja. Ada sekitar 20 editor yang tersebar di Indonesia dan berbagai negara.</p>
<p>Kepala Subdit Pelayanan dan Pengabdian Masyarakat Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia Yoki Yulizar, Ph.D. mengatakan, tahun ini enam jurnal di UI dalam persiapan untuk jurnal internasional. Untuk meningkatkan kualitas pengelolaan jurnal ilmiah, UI melakukan koordinasi dengan pengelola teknis dan dewan editor secara berkala. (INE: http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/13/03423384/sulit.buat.jurnal.internasional)</p>
<p></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sahhala.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sahhala.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sahhala.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sahhala.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sahhala.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sahhala.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sahhala.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sahhala.wordpress.com/456/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sahhala.wordpress.com/456/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sahhala.wordpress.com/456/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sahhala.wordpress.com&blog=717112&post=456&subd=sahhala&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sahhala.wordpress.com/2009/08/13/sulit-buat-jurnal-internasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cc4731151302f24ad2dccb510c063080?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sahhala</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sahhala.files.wordpress.com/2009/08/cov-afkar-21.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">COV AFKAR 21</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengelola Jurnal Kesulitan Naskah</title>
		<link>http://sahhala.wordpress.com/2009/08/13/pengelola-jurnal-kesulitan-naskah-mencerminkan-mutu-penelitian/</link>
		<comments>http://sahhala.wordpress.com/2009/08/13/pengelola-jurnal-kesulitan-naskah-mencerminkan-mutu-penelitian/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 06:58:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sahhala</dc:creator>
				<category><![CDATA[minat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sahhala.wordpress.com/?p=452</guid>
		<description><![CDATA[  
Rabu, 12 Agustus 2009 &#124; 04:05 WIB
Jakarta, Kompas &#8211; Sejumlah pengelola jurnal ilmiah di perguruan tinggi mengeluhkan sulitnya mendapatkan naskah-naskah yang bermutu. Selain menghambat pengembangan jurnal ilmiah, kondisi ini sekaligus mencerminkan kualitas penelitian di Tanah Air.
Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kemitraan Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof Indratmo Soekarno mengatakan, Selasa (11/8), agar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sahhala.wordpress.com&blog=717112&post=452&subd=sahhala&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!-- end judul + lead --> <!-- end headline --> <!-- isi berita --></p>
<div id="attachment_453" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-453" title="cover" src="http://sahhala.files.wordpress.com/2009/08/cover1.jpg?w=300&#038;h=186" alt="Sampul Jurnal Tashwirul Afkar edisi 23. Di Komas, sampul ini tidak ada" width="300" height="186" /><p class="wp-caption-text">  Sampul Jurnal Tashwirul Afkar edisi 23.         Di Kompas, sampul ini tidak ada.</p></div>
<p>Rabu, 12 Agustus 2009 | 04:05 WIB</p>
<p><span id="article_body">Jakarta, Kompas &#8211; Sejumlah pengelola jurnal ilmiah di perguruan tinggi mengeluhkan sulitnya mendapatkan naskah-naskah yang bermutu. Selain menghambat pengembangan jurnal ilmiah, kondisi ini sekaligus mencerminkan kualitas penelitian di Tanah Air.</span></p>
<p>Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kemitraan Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof Indratmo Soekarno mengatakan, Selasa (11/8), agar berkembang dan mendapatkan akreditasi nasional atau menjadi jurnal internasional, keteraturan terbit sangat penting. Akreditasi nasional, misalnya, mensyaratkan jurnal terbit berturut-turut dua-tiga tahun dan dalam satu seri sekitar 200 halaman.</p>
<p><span id="more-452"></span>Di ITB terdapat 32 jurnal ilmiah dan 27 di antaranya aktif terbit. Lima lainnya kurang aktif. Terdapat dua jurnal internasional dan 12 jurnal berakreditasi nasional. Tengah diupayakan dua jurnal lainnya diakui secara internasional.</p>
<p>Keberlanjutan jurnal ilmiah terkendala oleh minimnya naskah bagus. ”Masih kurang kiriman naskah hasil penelitian yang orisinalitasnya tinggi dan memiliki kebaruan atau new finding,” ujarnya.</p>
<p>Kondisi itu ikut mencerminkan kualitas riset di Tanah Air. ”Kalau penelitian hanya bersifat daur ulang, sulit masuk jurnal ilmiah berakreditasi,” katanya.</p>
<p>Hal serupa diungkapkan Kasubdit Pelayanan dan Pengabdian Masyarakat Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia Yoki Yulizar.</p>
<p>UI mengelola 34 jurnal ilmiah dan 10 jurnal di antaranya terakreditasi serta 24 jurnal dalam proses akreditasi. Tahun ini, 6 jurnal di antaranya dalam persiapan sebagai jurnal internasional. ”Sebagian pengelola jurnal mempunyai kendala dalam memburu naskah,” ujarnya.</p>
<p>Kesulitan mendapatkan naskah sempat dirasakan Jimmy P Paat, dosen Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Jakarta. Dia pernah menjadi anggota dewan penyunting Jurnal Kebahasaan dan Kesastraan.</p>
<p>Jimmy mengatakan, ada kecenderungan penelitian sebatas proyek. Proyek memang merangsang tumbuhnya penelitian, tetapi kualitasnya dipertanyakan. (INE: http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/12/04052572/pengelola.jurnal.kesulitan.naskah)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sahhala.wordpress.com/452/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sahhala.wordpress.com/452/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sahhala.wordpress.com/452/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sahhala.wordpress.com/452/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sahhala.wordpress.com/452/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sahhala.wordpress.com/452/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sahhala.wordpress.com/452/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sahhala.wordpress.com/452/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sahhala.wordpress.com/452/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sahhala.wordpress.com/452/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sahhala.wordpress.com&blog=717112&post=452&subd=sahhala&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sahhala.wordpress.com/2009/08/13/pengelola-jurnal-kesulitan-naskah-mencerminkan-mutu-penelitian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cc4731151302f24ad2dccb510c063080?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sahhala</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sahhala.files.wordpress.com/2009/08/cover1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">cover</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Motivasi Menulis Karya Masih Minim</title>
		<link>http://sahhala.wordpress.com/2009/08/13/motivasi-menulis-karya-masih-minim/</link>
		<comments>http://sahhala.wordpress.com/2009/08/13/motivasi-menulis-karya-masih-minim/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 06:35:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sahhala</dc:creator>
				<category><![CDATA[minat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sahhala.wordpress.com/2009/08/13/motivasi-menulis-karya-masih-minim/</guid>
		<description><![CDATA[Selasa, 11 Agustus 2009 &#124; 03:35 WIB

Jakarta, Kompas &#8211; Tradisi menulis karya ilmiah dan memublikasikannya di jurnal ilmiah berakreditasi nasional maupun internasional belum sepenuhnya terbentuk di kalangan pengajar di perguruan tinggi. Masih banyak kendala untuk kegiatan tersebut, terutama motivasi yang rendah.
Dr Swastiko Priyambodo dari Institut Pertanian Bogor (IPB) mengatakan, Senin (10/8), motivasi menulis dan memasukkannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sahhala.wordpress.com&blog=717112&post=446&subd=sahhala&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Selasa, 11 Agustus 2009 | 03:35 WIB</p>
<p><span id="article_body"></p>
<div id="attachment_447" class="wp-caption alignleft" style="width: 175px"><img class="size-full wp-image-447" title="Afkar20" src="http://sahhala.files.wordpress.com/2009/08/afkar20.jpg?w=165&#038;h=235" alt="Sampul Jurnal Tashwirul Afkar edisi 20" width="165" height="235" /><p class="wp-caption-text">Sampul Jurnal Tashwirul Afkar edisi 20. Di Komas, sampul ini tak ada.</p></div>
<p>Jakarta, Kompas &#8211; Tradisi menulis karya ilmiah dan memublikasikannya di jurnal ilmiah berakreditasi nasional maupun internasional belum sepenuhnya terbentuk di kalangan pengajar di perguruan tinggi. Masih banyak kendala untuk kegiatan tersebut, terutama motivasi yang rendah.</p>
<p>Dr Swastiko Priyambodo dari Institut Pertanian Bogor (IPB) mengatakan, Senin (10/8), motivasi menulis dan memasukkannya ke jurnal ilmiah masih rendah dan sistem yang ada belum mendorong ke arah itu.</p>
<p><span id="more-446"></span>”Memublikasikan karya ilmiah ke jurnal membutuhkan usaha keras dan cukup rumit. Karya harus ada unsur kebaruan dan orisionalitasnya,” ujarnya. Selain itu, karya-karya yang masuk akan diseleksi ketat dan dinilai kelayakannya oleh para pakar di berbagai bidang keilmuan.</p>
<p>Belum lagi untuk masuk ke jurnal ilmiah harus mengeluarkan dana. Sebagai contoh, untuk jurnal internasional berakreditasi internasional per lembar sekitar 50-100 dollar Amerika Serikat. Adapun jurnal berakreditasi nasional sekitar Rp 500.000 per sepuluh lembar. Biaya tersebut dapat bervariasi.</p>
<p>Sementara itu, sistem yang membentuk atau ”memaksa” dosen untuk memublikasikan karya ilmiahnya di jurnal ilmiah belum ada. Dia mencontohkan, di perguruan tinggi di sejumlah negara, antara lain Jepang, terdapat keharusan bagi para mahasiswa program doktor untuk publikasi jurnal ilmiah minimal dua kali sebagai syarat untuk sidang doktor.</p>
<p>”Di Eropa, seperti di Jerman, para pembimbing mahasiswa program pascasarjana selalu mendorong mahasiswanya untuk mengirimkan karya ke jurnal ilmiah,” ujarnya.</p>
<p>Di Institut Pertanian Bogor, menurut Swastiko, sudah dimulai berbagai dorongan memasukkan karya ilmiah bagi para mahasiswa program doktor. ”Minimal ke jurnal berskala nasional,” ujarnya.</p>
<p><strong>Kenaikan pangkat</strong></p>
<p>Hal senada diungkapkan pengajar di Universitas Negeri Jakarta, Lodi Paat. Dukungan dari perguruan tinggi agar para pengajar menulis di jurnal ilmiah antara lain dengan adanya keharusan menulis dan meneliti sebagai syarat kenaikan pangkat.</p>
<p>”Para dosen sudah melakukan. Tetapi kualitasnya masih bisa dipertanyakan. Jurnal ilmiah di Indonesia juga tidak banyak. Persoalan lainnya, tidak semua pengajar terbiasa menulis. Apalagi, infrastruktur pendukung, seperti perpustakaan dengan koleksi memadai sebagian juga masih minim. Membaca dan menulis itu saling terkait,” ungkapnya.</p>
<p>Di sela-sela acara simposium penelitian pendidikan pekan lalu, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Fasli Jalal mengungkapkan, pemerintah akan memberikan bantuan untuk pengembangan jurnal ilmiah.</p>
<p>Untuk jurnal ilmiah yang belum terakreditasi secara nasional akan dibantu Rp 50 juta per tahun. Adapun jurnal yang telah berakreditasi nasional, sebagian terpilih mendapatkan bantuan Rp 150 juta per tahun guna mengembangkan diri sehingga mampu menembus akreditasi internasional. (INE: http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/11/03355765/motivasi..menulis.karya.masih.minim)</p>
<p></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sahhala.wordpress.com/446/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sahhala.wordpress.com/446/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sahhala.wordpress.com/446/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sahhala.wordpress.com/446/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sahhala.wordpress.com/446/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sahhala.wordpress.com/446/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sahhala.wordpress.com/446/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sahhala.wordpress.com/446/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sahhala.wordpress.com/446/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sahhala.wordpress.com/446/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sahhala.wordpress.com&blog=717112&post=446&subd=sahhala&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sahhala.wordpress.com/2009/08/13/motivasi-menulis-karya-masih-minim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cc4731151302f24ad2dccb510c063080?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sahhala</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sahhala.files.wordpress.com/2009/08/afkar20.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Afkar20</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Indonesia: Sour Sally dan Saur Sepuh</title>
		<link>http://sahhala.wordpress.com/2009/08/06/indonesia-sour-sally-dan-saur-sepuh/</link>
		<comments>http://sahhala.wordpress.com/2009/08/06/indonesia-sour-sally-dan-saur-sepuh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2009 05:19:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sahhala</dc:creator>
				<category><![CDATA[minat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sahhala.wordpress.com/?p=444</guid>
		<description><![CDATA[

Tutup mata dan bayangkanlah visualisasi Indonesia. Apa yang tergambar? Batik, Borobudur? Pohon Kelapa? Perempuan coklat? Saur Sepuh? Sekarang buka lagi mata dan tutup lagi: Mall? Fastfood? Bioskop 21? Blackberry? Sour Sally?
Sulit mendapatkan gambaran utuh sintesa masa lalu dan masa kini dalam visualisasi Indonesia demi sebuah national cultural branding. Adakah tipografi yang khas Indonesia? Ornamen? Suara? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sahhala.wordpress.com&blog=717112&post=444&subd=sahhala&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div>
<div>
<p><img style="width:255px;height:282px;" src="http://iwan.pirous.com/wp-content/uploads/2009/05/saur-sepuh1.png" alt="saur-sepuh1" width="336" height="333" align="left" />Tutup mata dan bayangkanlah visualisasi Indonesia. Apa yang tergambar? Batik, Borobudur? Pohon Kelapa? Perempuan coklat? Saur Sepuh? Sekarang buka lagi mata dan tutup lagi: Mall? Fastfood? Bioskop 21? <em>Blackberry</em>? <em>Sour Sally</em>?</p>
<p>Sulit mendapatkan gambaran utuh sintesa masa lalu dan masa kini dalam visualisasi Indonesia demi sebuah <em>national cultural branding</em>. Adakah tipografi yang khas Indonesia? Ornamen? Suara? Bau?</p>
<p><span id="more-444"></span></p>
<p>Keindonesiaan selamanya obsesif dan sugestif. Kita merasa tidak punya dan terus mencarinya, tapi kita juga sangat yakin itu ada. Sesuatu yang sangat Indonesia seperti merah putih, garuda yang jelas nongkrong secara resmi adalah identitas formal. Katakanlah konsensus. Tapi kering. Garuda tidak pernah muncul kecuali dibingkai kaca, merah putih terlalu sakral untuk jadi Tshirt-<em>funkee</em>, Indonesia Raya tidak boleh diubah aransemennya, Borobudur, ah cukup Indonesiakah itu? Walau Kecap <em>Borobudur</em> sangat Indonesia banget termasuk <em>Bango</em>, <em>Merak</em>, <em>Udang Sari</em>.</p>
<p>Membayangkan bangsa bagaikan ditarik kebelakang seperti khayalan Muhammad Yamin sekaligus dibetot kedepan seperti sabda St. Takdir. Ditambah dengan kesialan kolonialisme, angan-angan Indonesia semakin eksotis saja: tempat istirahat seperti kartupos yang damai, bersenja temaram, (Visit Indonesia the <em>mooi indie).</em> Sekaligus juga developmentalis berat: hypermart, jalan tol, lagi2 mall tiap sentimeter, kebon sawit, logging..</p>
<p>Kata Ernest Gellner, antropolog:</p>
<blockquote><p>sentimen kebangsaan adalah tipe kebudayaan yang secara otomatis akan berkembang setelah negara mencapai industrialisasi, tahap kesejahetraan ekonomi, pembagian kerja terdiferensiasi dan birokrasi massal yang efektif dan menjangkau ruang publik.</p></blockquote>
<p>Identitas nasional merupakan buah paling manis.. ketika negara bisa percaya diri untuk claiming banyak hal melalui dukungan kebijakan tentang soal2 remeh: kecap, bakso, pecel, borobudur, ikan asin, tuak. Jadi jangan harap bangsa punya identitas nasional kuat, jika kinerja negara lemah, tidak sistematis, lambat, ribet sama pemilu, dan miskin pelayanan publik… Maka kita tak akan punya cultural branding seperti Wine bagi Perancis, <em>Curry</em> untuk Inggris. Apalagi sebuah sinkretisme antara past-future, antara Yamin dan St Takdir.. antara Sour Sally dan Saur Sepuh..</p>
<p><strong>( sumber: http://iwan.pirous.com/)</strong></div>
<p><a rel="tag" href="http://iwan.pirous.com/tag/sour-sally"><br />
</a></div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sahhala.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sahhala.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sahhala.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sahhala.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sahhala.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sahhala.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sahhala.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sahhala.wordpress.com/444/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sahhala.wordpress.com/444/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sahhala.wordpress.com/444/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sahhala.wordpress.com&blog=717112&post=444&subd=sahhala&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sahhala.wordpress.com/2009/08/06/indonesia-sour-sally-dan-saur-sepuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cc4731151302f24ad2dccb510c063080?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sahhala</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://iwan.pirous.com/wp-content/uploads/2009/05/saur-sepuh1.png" medium="image">
			<media:title type="html">saur-sepuh1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kelas Pendidikan Menulis di Pesantren</title>
		<link>http://sahhala.wordpress.com/2009/08/03/kelas-pendidikan-menulis-di-pesantren/</link>
		<comments>http://sahhala.wordpress.com/2009/08/03/kelas-pendidikan-menulis-di-pesantren/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Aug 2009 05:27:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sahhala</dc:creator>
				<category><![CDATA[minat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sahhala.wordpress.com/?p=441</guid>
		<description><![CDATA[Berdirinya lembaga dan bangunan mungil bernama Baitul Hikmah di zaman raja Harun Al-Rasyid &#8211;berkuasa pada tahun 786-803&#8211; mengilhami tumbuh-kembangnya lembaga-lembaga serupa di belahan dunia. Satu contoh, para ahli sejarah dunia mencatat Raja Louis XI yang gagah sempat melongok-longok Baitul Hikmah saat menempuh perjalanan perang Salib. Dan sang raja terpesona.
Setelah pulang kampung, ia lantas mendirikan perpustakaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sahhala.wordpress.com&blog=717112&post=441&subd=sahhala&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_442" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-442" title="Image0041" src="http://sahhala.files.wordpress.com/2009/08/image0041.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Kelas Pendidikan Menulis di PP Al-Karimiyah, 2 Agustus 2009" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Kelas Pendidikan Menulis di PP Al-Karimiyah, 2 Agustus 2009</p></div>
<p>Berdirinya lembaga dan bangunan mungil bernama Baitul Hikmah di zaman raja Harun Al-Rasyid &#8211;berkuasa pada tahun 786-803&#8211; mengilhami tumbuh-kembangnya lembaga-lembaga serupa di belahan dunia. Satu contoh, para ahli sejarah dunia mencatat Raja Louis XI yang gagah sempat melongok-longok Baitul Hikmah saat menempuh perjalanan perang Salib. Dan sang raja terpesona.</p>
<p>Setelah pulang kampung, ia lantas mendirikan perpustakaan Bibliotheque Nationale di tengah-tengah kota Paris. Bibliotheque Nationale tercatat sebagai perpustakaan pertama di Paris.</p>
<p>Pada zamannya, Baitul Hikmah bukan saja sebagai satu-satunya pusat koleksi karya-karya kuno yang penting dan berkualitas, melainkan juga mendorong para pakar dari berbagai disiplin ilmu untuk menggerakkan tradisi penelitian, penulisan, penerjemahan, serta pendokumentasian. Di sana, para ilmuan bertemu, berdialog, diskusi, dan saling berbagi ilmu dan pengalaman.<span id="more-441"></span></p>
<p>Para ulama atau kiai Indonesia bagian dari gegap-gempita tradisi keilmuan, utamanya Islam. Mereka tak tertinggal. Di penghujung abad ke-17, di Arabia, mereka bukan saja belajar, melainkan berlomba memproduksi karya-karya berbobot dalam bidang keislaman. Hasilnya, buah tangan mereka tidak hanya digemari oleh penduduk negeri khatulistiwa, tapi juga dinikmati para ulama di Arabia, daratan yang punya kedekatan sejarah dengan baitul Hikmah.</p>
<p>Yang wajib dicatat dari sejarah keilmuan Islam di Indonesia adalah Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar at-Tanari al-Bantani al-Jawi. Laki-laki yang wafat di usia 84 tahun di Syeib A’li, sebuah kawasan di pinggiran kota Mekkah, pada 25 Syawal 1314H/1879 adalah salah satu ulama Indonesia yang amat produktif menulis kitab &#8211;lazim disebut Kitab Kuning&#8211; dalam berbagai disiplin keislaman. Paling tidak, sebanyak 34 karnyanya tercatat dalam Dictionary of Arabic Printed Books karya Yusuf Alias Sarkis. Tafsir Al-Qur’an berjudul <em>Marah Labid</em> merupakan salah satu karya emasnya yang dikaji di pusat-pusat perguruan tinggi Islam dunia. Saking harumnya, nama Syaikh Namawi sering disalahtukarkan dengan Imam an-Nawawi, penerus madzhab fiqh Syafiyyah dari Damaskus yang tersohor itu.</p>
<p>Selain Syaikh Namawi, ulama Indonesia yang giat menuliskan pikirannya adalah, antara lain, Syaikh Arsyad al-Banjari, Syaikh Abdul Shamad Al-Palimbani, Syaikh Yusuf Makasari, Syaikh Syamsudin Sumatrani, Hamzah Fansuri, Nuruddin Al-Raniri, Sheikh Ihsan Al-Jampesi, dan Syaikh Muhammad Mahfudz Al-Tirmasi, Hadratusy Syaikh Hasyim As’ari, Kiai Bisri Mustofa, dan lain-lain.</p>
<p>Tradisi kepenulisan –berbentuk prosa, syair, deskrispsi, dll.- yang kuat di tangan para ulama Indonesia tidak saja ikut serta mengistikomahkan pengembangan ajaran atau studi Islam, tapi juga turut menjaga budaya-budaya lokal, utamanya bidang bahasa.</p>
<p>Sebut saja <em>Sabilal Muhtadin</em> karya besar dari Syaikh Arsyad al-Banjari (<a title="1710" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1710">1710</a>-<a title="1812" href="http://id.wikipedia.org/wiki/1812">1812</a>) Kitab tafsir ini menggunakan bahasa Melayu sebagai media berkomunikasi. Hanya <em>Sabilal Muhtadin</em>-lah dokumen berbahasa Melayu yang dibaca tiap hari. Selainnya tidak.</p>
<p>Di Sulawesi Selatan, tepatnya di Sidenreng Rappang (Sidrap), Kiai Abdul Mu’in Yusuf (W 2004) telah berhasil mengupayakan tafsir berbahasa Bugis. Selain komunitas santri, tak ada anak-anak Bugis yang membaca karya berbahasa ibunya saban hari.</p>
<p>Di desa Leteh, tidak jauh dari Laut Jawa, Kiai Bisri Musthofa sukses menulis kitab tafsir berbahasa Jawa “aneh”. Al-Ibriz namanya. Dikatakan bahasa Jawa “aneh” karena banyak diksi yang bukan bahasa sehari-hari, dan di dalamnya menunjukkan campuran bahasa Jawa yang beraneka ragam, ada Cirebonan, Banyumasan, Mataraman, Suroboyoan, dan lain-lain. Tak ada komunitas Jawa manapun yang menggunakan Jawa “aneh” selain komunitas pesantren. Selain Al-Ibriz, masih puluhan atau bahkan ratusan kitab berbahasa Jawa “aneh” diproduksi. Dan lain-lain dan lain-lain.</p>
<p>Keuntungan karya-karya ulama menggunakan bahasa Jawa, Bugis, Melayu, adalah bukan saja mudah diserap dan pas, tapi juga sebagai sarana mempertahankan bahasa ibu yang kaya.</p>
<p>Hari ini, sistem keilmuan modern yang pragmatis, serta dunia komunikasi yang revolusioner membuat sejarah emas tradisi penulisan yang dituturkan di atas, di ruan-ruang kelas, dan di mana-mana, hanya terasa romantisme saja. Tradisi keilmuan di Indonesia tak disertai dengan tradisi kepenulisan yang kuat, sehingga tradisi keilmuan terasa sunyi.</p>
<p>Untung saja, pesantren hari ini punya KH. Saifudin Zuhri (alm.), Mahbub Djunaidi (alm.), KH. Abrurahman Wahid, KH. A. Musthofa Bisri, Ahmad Tohari, D. Zawawi Imron, Acep Zamzam Noor, dan lain-lain. Di tangan mereka, lewat berbagai model penulisan &#8211;prosa, puisi, esai, novel, cerpen, dll&#8211; tradisi pesantren terus bergerak, bergema, dan terdengar. Tapi, jumlah itu amatlah kecil.</p>
<p>Dengan latar belakang itulah, pendidikan menulis di pesantren menemukan argumentasi dan relevansinya. Terasa ambisius memang. Tapi begitulah, tradisi keilmuan dan kepenulisan tak akan bertahan dan berkembang tanpa hembusan cita-cita ambisius!</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sahhala.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sahhala.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sahhala.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sahhala.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sahhala.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sahhala.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sahhala.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sahhala.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sahhala.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sahhala.wordpress.com/441/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sahhala.wordpress.com&blog=717112&post=441&subd=sahhala&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sahhala.wordpress.com/2009/08/03/kelas-pendidikan-menulis-di-pesantren/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cc4731151302f24ad2dccb510c063080?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sahhala</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sahhala.files.wordpress.com/2009/08/image0041.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Image0041</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Breaking News&#8221; Evolusi Pematangan Seorang Jurnalis</title>
		<link>http://sahhala.wordpress.com/2009/07/30/breaking-news-evolusi-pematangan-seorang-jurnalis/</link>
		<comments>http://sahhala.wordpress.com/2009/07/30/breaking-news-evolusi-pematangan-seorang-jurnalis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jul 2009 10:00:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sahhala</dc:creator>
				<category><![CDATA[minat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sahhala.wordpress.com/?p=436</guid>
		<description><![CDATA[
Rabu, www.antaranews.com, 29 Juli 2009 12:34 WIB &#124; Artikel &#124; Resensi Buku &#124;
Jafar M. Sidik

Jakarta (ANTARA News) &#8211; Jika Anda jurnalis televisi atau fotografer yang terbiasa meliputi konflik, Anda mungkin tak asing dengan nama ikonik Martin Fletcher, jurnalis veteran yang kini menjadi Kepala Biro jaringan televisi NBC di Tel Aviv.
Peraih lima penghargaan Emmy ini berbagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sahhala.wordpress.com&blog=717112&post=436&subd=sahhala&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div>
<div>Rabu, www.antaranews.com, 29 Juli 2009 12:34 WIB | Artikel | Resensi Buku |</div>
<h2>Jafar M. Sidik</h2>
</div>
<div style="margin-top:20px;">Jakarta (ANTARA News) &#8211; Jika Anda jurnalis televisi atau fotografer yang terbiasa meliputi konflik, Anda mungkin tak asing dengan nama ikonik Martin Fletcher, jurnalis veteran yang kini menjadi Kepala Biro jaringan televisi NBC di Tel<img class="alignright size-thumbnail wp-image-438" title="breaking-news" src="http://sahhala.files.wordpress.com/2009/07/breaking-news1.jpg?w=100&#038;h=150" alt="breaking-news" width="100" height="150" /> Aviv.</p>
<p>Peraih lima penghargaan Emmy ini berbagi pengalaman jurnalistiknya dalam otobiografi renyah nan bermakna, &#8220;Breaking News; A Stunning and Memorable Account of Reporting from Some of the Most Dangerous Places in the World,&#8221; terbitan Thomas Dunne Books, Maret 2008.</p>
<p>Dalam lebih dari tiga dekade meliput perang, revolusi, dan bencana, Martin merintis karir dari seorang kamerawan hingga akhirnya menjadi produser dan wartawan perang kawakan yang dihormati dunia.</p>
<p>Mulanya, dia hanya pemuda yang menerjuni dunia kewartawanan agar bisa melihat dunia. &#8220;Saya bukan orang muda yang diutus untuk menyelamatkan dunia, sebaliknya yang saya buru adalah uang dan kesempatan berkeliling dunia,&#8221; katanya agak berseloroh.</p></div>
<div style="margin-top:20px;"><span id="more-436"></span></p>
<p><!--more--><!--more--> Dia tak mempersiapkan diri menjadi wartawan perang, bahkan dia tak terlatih mengoperasikan kamera video. Tapi akhirnya dia selalu ada di tengah perang. &#8220;Saya adalah saksi kelahiran Hizbullah di wilayah pendudukan Israel di Lebanon Selatan pada 1982. Lima tahun kemudian, pada 1987, saya menyaksikan Sheikh Ahmad Yassin mendirikan Hamas.&#8221;</p>
<p>Kendati mengisahkan kengeriaan, nestapa, kematian dan kehancuran, Martin tak mendedah semua itu dengan dramatisasi atau narasi yang narsistis, malah dia menyisipinya dengan tuturan dan kisah-kisah konyol nan jenaka.</p>
<p>Satu hari pada 1967, ketika Arab dan Israel berperang, Martin masih hijau pengalaman, apalagi meliput perang. Wartawan top Inggris dari Sunday Times, Nicholas Tomalin, menasihatinya agar jangan jauh-jauh dari konvoi tentara. Ironisnya, justru mobil Nicholas yang dihantam roket anti tank Suriah, hanya lima menit setelah menasihati Martin.</p>
<p>Nyaris tak ada perang sejak 1960an hingga kini yang tak diliputnya, dari Siprus, Bosnia, Kosovo, Somalia, Rhodesia, Zaire, sampai Aghanistan. Dia berada di daerah konflik dan bencana, dari Rwanda, Sudan, sampai Kamboja. Dia pernah ditanya, &#8220;Mengapa kamu pergi ke Zaire? Di sana kan bahaya.&#8221; Dia menjawab, &#8220;Untuk itulah saya pergi.&#8221;</p>
<p>Kian tua, perspektif jurnalistiknya semakin matang dan melihat konflik lebih luas dari sekedar propaganda, tentara, senjata dan kehancuran. Adalah Irv Margolies, Kepala Biro NBC di London yang mengubahnya, &#8220;Orang tak peduli pada bangunan, pesawat atau senjata. Orang peduli pada orang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sejak itu, untuk pertamakali dalam hidupku, saya menjadi hanyut lebih dalam pada tragedi manusia di sekitar saya,&#8221; aku Martin.</p>
<p>Dia semakin hirau pada etika dan moral berita, termasuk saat menggali pendapat para pelaku kejahatan kemanusiaan dan panglima perang penindas rakyat.</p>
<p>Batinnya selalu bertanya, etiskah menyantap makanan yang dihidangkan pemimpin yang merampoki rakyatnya sendiri? Pantaskah mengambil gambar korban perang yang tengah meraung menangis, hanya dua meter darinya? Beranikah kita tetap kritis terhadap penindas rakyat padahal mereka sedang menentukan nasib hidup kita?</p>
<p>&#8220;Saya menjadi gampang tersentuh oleh orang-orang yang saya liput, menjadi lebih sensitif terhadap garis yang mesti saya seberangi untuk diberitakan,&#8221; katanya.</p>
<p>Dia pun menempatkan korban sebagai subyek, tidak lagi sebagai obyek. Katanya, tak ada yang lebih baik ketimbang membiarkan orang menceritakan kisahnya sendiri.</p>
<p>Maka, semakin dalamlah dia memotret orang-orang terpinggirkan, mereka yang disudutkan dan tak dikanalisasi media, mereka itu termasuk penjahat perang dan orang-orang dari gerakan perlawanan yang kadung disamakan dengan teroris. Itu dilakukannya karena dia merasa memikul tanggungjawab untuk mengajak manusia menghentikan kebencian dan penderitaan.</p>
<p>Namun ketika NBC mengeluarkan kebijakan, mengurangi TED (T<em>ime exposed to danger</em>) atau mempersempit ruang publikasi bagi para perusak kemanusiaan, Martin mematuhinya. Sewaktu ditawari mewawancarai Abu Musab al-Zarkawi, teroris sadis yang dihargai 25 juta dolar AS, Martin menampik demi TED.</p>
<p>&#8220;Mereka akan menerbangkanku ke Baghdad, lalu mengantarkanku ke teroris Alqaeda di lapangan. Saya menolak secara halus.&#8221;</p>
<p>Kemudian Rwanda mengubah dirinya. Di situ, Martin mulai berani mencampakkan sensasi dan eksklusivitas liputan. Ketika kamerawannya melihat gambar &#8220;kuat&#8221; berupa gelimang mayat korban genosida sehingga dimintanya mobil berhenti agar bisa mengambil gambar, untuk pertama kali dalam karir jurnalistiknya Martin berkata, &#8220;Tidak, saya tak ingin melihatnya, jalan terus.&#8221;</p>
<p><strong>Independen</strong></p>
<p>Martin menyesali keterlambatannya di Rwanda, tapi dia lebih menyesali dunia yang lambat mencegah pembantaian ratusan ribu orang hanya gara-gara etnis. Dia lalu semakin fokus pada korban perang, apalagi sejak awal dia tak tertarik meliput raja atau presiden atau liputan-liputan seremonial.</p>
<p>&#8220;Saya jarang mewawancarai kepala negara atau bos perusahaan. Saya tak peduli apa yang jenderal-jenderal katakan. Tak seorang pun yang menjual cerita kepadaku, dan tak satu pun kebijakan yang mengubah pandanganku. Saya hanya peduli pada orang yang menjadi korban,&#8221; tulisnya.</p>
<p>Di otobiografinya ini, Martin menumpahkan rangkaian petualangan hidupnya yang mengekspos dilema-dilema yang dihadapi seorang jurnalis di wilayah konflik.</p>
<p>Dia mengupas teror bunuh diri, kelaparan, dan perang dari perspektif yang berbeda dari kebanyakan jurnalis. Dia tidak kagok berdekatan dengan tokoh-tokoh antagonis seperti panglima perang Somalia Mohammad Farrah Aidid atau para aktivis Palestina, termasuk para pemuda Brigade al-Aqsa. Tetapi dia juga tak pernah kehilangan pandangan jernih, kekritisan dan independensinya.</p>
<p>&#8220;Saya ngeri dengan kekerasan, simpati kepada korban, memahami peneror yang adalah juga korban yang terperangkap oleh lingkaran kebencian sejak mereka dilahirkan,&#8221; katanya merujuk aksi bom bunuh diri warga Palestina.</p>
<p>Dia lukiskan dilema itu lewat tuturan seorang ibu Israel, Nurit Peled-Elhanan, yang anaknya menjadi korban bom bunuh diri.</p>
<p>Ditelepon PM Israel Benjamin Netanyahu yang hendak berbelasungkawa, Nurit menampik. &#8220;Dia (Netanyahu) berpikir seperti teroris. Saya menyalahkannya karena membuat peneror bunuh diri terinspirasi oleh pandangan (politiknya).&#8221;</p>
<p>Semakin senja, Martin kian menolak eskpos dentuman meriam, salak senjata, atau derap langkah tentara sehingga ketika meliput Sudan dan Kosovo, dia begitu bergairah menggambarkan pada dunia betapa manusia di bagian lain menderita karena lapar, kebrutalan perang dan diabaikan.</p>
<p>Dia merasa sudah tugasnya memperlihatkan dan melaporkan pada dunia apa yang terjadi, sekaligus belajar dari situ. &#8220;Saya bukan polisi, saya tak mampu menawari jawaban, tapi saya bisa membantu korban menyampaikan apa yang menjadi pertanyaan mereka sampai mereka tahu dunia mempedulikan mereka.&#8221;</p>
<p>Untuk itu, dia videografikan habis-habisan Fida, bocah Sudan yang sekarat dan digendong ayahnya ke tenda pengungsi setelah berjalan sejauh 120 mil. Dia tampilkan Fida agar dunia tergugah pada derita Afrika. Pun ketika di Kosovo, dia <em>close up</em> Yehona, gadis cilik yang tercerabut dari keluarganya setelah kampungnya dibabat para pembunuh rasialis.</p>
<p>Martin juga kerap menjadi orang pertama yang mengekspos bukti kekejaman perang dan konflik bersenjata sehingga dunia tergugah.</p>
<p>Semakin tua, disamping semakin humoris dan gemar menertawai petualangan hidupnya yang gemar menantang maut, tidak berubah narsis, Martin kian dekat pada orang-orang yang dinistakan oleh dunia, oleh pemimpin, tatanan dan media massa.</p>
<p>Dia menjalani evolusi, dari seorang jurnalis petualang, menjadi guru yang melihat semua hal dari segala sudut.</p>
<p>Di akhir bagian bukunya, dia menulis, &#8220;Di dunia yang terobsesi selebritis, kemewahan, dan (kisah) sukses, saya fokus pada mereka yang terpinggirkan dan menjadi korban. Kini saya yakin bahwa kerjaku adalah juga berupa perjalanan mencapai penemuan, dalam mana saya berupaya memahami derita keluargaku sendiri dengan menjadi saksi dan menyelami penderitaan orang lain.&#8221;</p>
<p>Asal tahu saja, hampir seluruh keluarga kedua orangtua Martin musnah dihabisi Nazi Jerman pada Perang Dunia Kedua. (*)</p></div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sahhala.wordpress.com/436/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sahhala.wordpress.com/436/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sahhala.wordpress.com/436/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sahhala.wordpress.com/436/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sahhala.wordpress.com/436/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sahhala.wordpress.com/436/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sahhala.wordpress.com/436/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sahhala.wordpress.com/436/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sahhala.wordpress.com/436/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sahhala.wordpress.com/436/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sahhala.wordpress.com&blog=717112&post=436&subd=sahhala&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sahhala.wordpress.com/2009/07/30/breaking-news-evolusi-pematangan-seorang-jurnalis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cc4731151302f24ad2dccb510c063080?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sahhala</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sahhala.files.wordpress.com/2009/07/breaking-news1.jpg?w=100" medium="image">
			<media:title type="html">breaking-news</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Surat Keberatan Pihak Keluarga Bisa Difasilitasi PBNU</title>
		<link>http://sahhala.wordpress.com/2009/07/22/surat-keberatan-pihak-keluarga-bisa-difasilitasi-pbnu/</link>
		<comments>http://sahhala.wordpress.com/2009/07/22/surat-keberatan-pihak-keluarga-bisa-difasilitasi-pbnu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jul 2009 04:56:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sahhala</dc:creator>
				<category><![CDATA[minat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sahhala.wordpress.com/?p=433</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta,Selasa, 14 Juli 2009 07:02, NU Online
Wakil Ketua Pengurus Pusat Lembaga Bahtsul Masail (LBM) NU KH Arwani Faisal menyarankan pihak keluarga Syekh Ihsan Jampes mengirimkan surat keberatan kepada pihak penerbit Darul Qutub Al-Ilmiyah, terkait penggantian nama pengarang kitab Sirajut Thalibin. Surat keberatan bisa difasilitasi oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
”Pihak keluarga bisa melakukan komplain ke [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sahhala.wordpress.com&blog=717112&post=433&subd=sahhala&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Jakarta,<span style="font-size:8pt;color:#ff9900;">Selasa, 14 Juli 2009 07:02, </span><strong><em>NU Online<br />
</em></strong><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-434" title="sirojut tolibin 1" src="http://sahhala.files.wordpress.com/2009/07/sirojut-tolibin-1.jpg?w=104&#038;h=150" alt="sirojut tolibin 1" width="104" height="150" />Wakil Ketua Pengurus Pusat Lembaga Bahtsul Masail (LBM) NU KH Arwani Faisal menyarankan pihak keluarga Syekh Ihsan Jampes mengirimkan surat keberatan kepada pihak penerbit Darul Qutub Al-Ilmiyah, terkait penggantian nama pengarang kitab <em>Sirajut Thalibin</em>. Surat keberatan bisa difasilitasi oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).</p>
<p>”Pihak keluarga bisa melakukan komplain ke Darul Kutub dan sepertinya bisa dengan stempel PBNU, karena memang dalam kitab asalnya<em> kan</em> ada kata pengantar dari pendiri NU Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari,” katanya dihubungi <em>NU Online</em> di Jakarta, Senin (13/7).</p>
<p>Berita pembajakan kitab Sirajut Thalibin dua jilid karya ulama besar Nusantara Syekh Ihsan Jampes di situs ini, Senin (13/7) kemarin memang memicu reaksi beberapa pengurus NU.</p>
<p><span id="more-433"></span> Seperti diberitakan, kitab ini dibajak oleh penerbit Darul Kutub Al-Ilmiyah Beirut, Lebanon. Nama pengarangnya diganti syekh Ahmad Zaini Dahlan Al-Hasani Al-Hasyimi, dan sambutan Syekh KH Hasyim Asy’ary dalam kitab asalnya dibuang.</p>
<p>Meurut KH Arwani Faisal, pihak LBM sebenarnya telah mengetahui ini sejak lama namun belum bisa memastikan informasi pembajakan ini karena belum mendapatkan kitabnya.</p>
<p>”Saya bahkan sempat menanyakan kepada perwakilan <em>Darul Fiqr</em> (penerbit kitab asli Sirajut Thalibin) yang berada di Jakarta, ini masih saudaranya penerbit Darul Kutub Al-Ilmiyah, sama-sama di Beirut. Dan pihak Darul Fiqr menyatakan mungkin terjadi kesalahan,” katanya.</p>
<p>Menurutnya, persoalan pembajakan ini harus diselesaikan. Jika memang terjadi kesalahan, pihak Darul Kutub Al-Ilmiyah harus meminta maaf terutama kepada pihak keluarga Syekh Ihsan Jampes di Kediri, Jawa Timur.</p>
<p>Ketua Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) KH Nuril Huda menyatakan, kasus pembajakan ini malahan mengingatkan umat Islam Indonesia pada sosok ulama besar asal Indonesia yang keilmuannya diakui secara internasional.</p>
<p>Kitab <em>Sirajut Thalibin</em> ini merupakan salah satu dari beberapa kitab yang dikarang oleh Syekh Ihsan Jampes. Kitab Syarah atau penjabaran dari Kitab <em>Minhajul Abidin</em> karya Imam Ghazali ini kini menjadi referensi utama di beberapa universitas Islam seluruh dunia yang mempelajari tasawuf.</p>
<p>Menurutnya, meski pengarangnya ihlas mempersembahkan karyanya untuk umat Islam, namun pembajakan ini tidak pantas dilakukan dan perlu diselesaikan dengan cara yang terbaik.</p>
<p>”Pemalsuan seperti ini <em>kan</em> hukumnya haram. Apalagi kalau disengaja dan niatnya untuk kepentingan pasar. Kalangan pesantren dan terutama pihak keluarga bisa segera kirim surat keberatan agar yang seperti ini tidak terulang,” katanya. (nam, http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&amp;menu=news_view&amp;news_id=18437)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sahhala.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sahhala.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sahhala.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sahhala.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sahhala.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sahhala.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sahhala.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sahhala.wordpress.com/433/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sahhala.wordpress.com/433/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sahhala.wordpress.com/433/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sahhala.wordpress.com&blog=717112&post=433&subd=sahhala&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sahhala.wordpress.com/2009/07/22/surat-keberatan-pihak-keluarga-bisa-difasilitasi-pbnu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cc4731151302f24ad2dccb510c063080?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sahhala</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sahhala.files.wordpress.com/2009/07/sirojut-tolibin-1.jpg?w=104" medium="image">
			<media:title type="html">sirojut tolibin 1</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>