“Sebab itu, benar juga kalau dikatakan bahwa pesantren adalah suatu subkultur dalam kehidupan masyarakat kita sebagai suatu bangsa. Ketahanannya membuat pesantren tidak mudah menerima sesuatu perubahan yang datang dari luar, karena pesantren memiliki suatu benteng tradisi tersendiri. Tradisi kerakyatan dalam mengabdi kepada Allah SWT, dan menyebar kebaikan di tengah-tengah masyarakat.” (KH Saifuddin Zuhri, Guruku Orang-orang dari Pesantren, hal. 72-73)
Tidak semua memang bisa tampil dalam situasi krisis, dimana perempuan harus tampil berdiri sendiri di baris paling depan. Karena itu berarti menanggung resiko terbesar dan terberat dibanding mereka yang berada di baris belakang. Tapi memang hanya mereka yang punya agency, yang punya inisiatif dan keberanian mengambil resiko, punya sikap tegas, dan keyakinan diri saja yang berani berdiri di avant garde. Merekalah yang bermental perintis dan pendobrak. Dan salah satu dari sekian perempuan itu di Tanah Air adalah (almarhumah) Ibu Solichah A Wahid Hasyim, ibunda Gus Dur.[2]