Arsip untuk Oktober, 2008

Yang Mendasar, Yang Dilanggar

Posted in sumsum on Oktober 24, 2008 by sahhala

Jumat Mabruk..

Apa kabarmu hari ini? Apa kabar semuanya?

Sepuluh tahun negeri ini berjalan dengan konflik. Bukan konflik positif yang mengarah kemaslahatan bersama. Juga bukan konflik sebagai pertanda dinamika hidup bersama dan berdampingan dengan “yang luar” dan “yang lain”. Konflik yang sedang berlangsung saat ini menumpahkan darah, memubadzirkan harta benda, membuang waktu, pikiran dan tenaga. Peristiwa busuk ini mengiringi saya belajar di MA (SMA), saya lepas MA dan masuk perguruan tinggi, saya belajar di perguruan tinggi, hingga saya lulus dan bekerja. Saya sungguh jenuh dan jengah menyaksikannya.

Dalam tingkatan yang lebih kecil, komunitas, saya juga sudah lelah menyaksikan konflik, konflik internal, apalagi sedikit banyak saya terlibat di dalamnya. Sebetulnya, persoalan yang menghinggapi komunitas persoalannya sederhana saja, tapi seringkali madorotnya besar. Karena madorotnya yang sering tampak tidak bisa dianggap kecil, saya seringkali berpikir persoalannya serius, tidak sederhana. Sehingga, kalau ada kawan yang usul untuk lebih meningkatkan kumpul-kumpul, meningkatkan kebersamaan, dengan misalnya tahlilan atau marhabanan, cukup naif. Soalnya bukan romantisme seperti itu.

Baca selebihnya »

Kita (Dipaksa) Sangat Tergantung pada Air Kemasan

Posted in sumsum on Oktober 23, 2008 by sahhala

22 October 2008

Pukul 12.15, Rabu (22/10) telepon berdering. Mas Jannes, Wakabiro Jabar menyampaikan penugasan dari Jakarta soal kelangkaan air minum dalam kemasan, khususnya dalam kemasan galon. Intinya, saya ditugaskan untuk memantau aktivitas di pabrik air minum dalam kemasan yang ada di Sukabumi.

Yang langsung terbayang di pikiran saya adalah muka-muka galak pak satpam di pabrik-pabrik air minum dalam kemasan. Tiga bulan lalu, saya pernah mencoba masuk dalam rangka mencari penyeimbang berita mengenai kekeringan yang disebabkan oleh aktivitas penyedotan air tanah untuk keperluan diproduksi menjadi air minum dalam kemasan itu.

Baca selebihnya »

22 Oktober 1945: Resolusi Jihad

Posted in jalan on Oktober 22, 2008 by sahhala

63 tahun yang lalu, tepatnya 21-22 Oktober 1945, wakil-wakil dari cabang NU di seluruh Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya. Dipimpin langsung oleh Rois Akbar NU Hadrotus Syekh KH. Hasyim Asy’ary dideklarasikanlah perang kemerdekaan sebagai perang suci alias jihad. Belakangan deklarasi ini populer dengan istilah Resolusi Jihad.

Segera setelah itu, ribuan kiai dan santri bergerak ke Surabaya. Dua minggu kemudian, tepatnya 10 November 1945, meletuslah peperangan sengit antara pasukan Inggris melawan para pahlawan pribumi yang siap gugur sebagai syahid. Inilah perang terbesar sepanjang sejarah Nusantara. Meski darah para pahlawan berceceran begitu mudahnya dan memerahi sepanjang kota Surabaya selama tiga minggu, Inggris yang pemenang Perang Dunia II itu akhirnya kalah.

Baca selebihnya »

Syekh Nawawi Banten dan Nasib Para Istri

Posted in minat on Oktober 21, 2008 by sahhala

Pada tahun 1963, Prof. Deliar Noer mempertahankan disertasi doktoralnya di Cornell University mengenai gerakan Islam Indonesia yang terbagi secara dikhotomis antara tradisionalis dan modernis. Sejak itu terma tradisionalis disematkan pada pesantren dan NU secara pejoratif, sebagai kelompok yang jumud, mandeg, tidak rasional dan anti terhadap nilai-nilai pembangunan modern saat itu. (Lihat: Noer, Deliar, (1980), Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942, LP3ES, Jakarta, terutama hal. 319-344). Segala atribut yang melekat pada kaum pesantren adalah simbol dari segala kejumudan dan keterbelakangan; pondok, sarung, tasbih, termasuk kitab-kitab kuning yang menjadi rujukan kaum pesantren.

Dikhotomi ini sempat terkenal pada tahun 70-an dan 80-an sebagai analisa sosial garda depan di kampus-kampus dan panggung penelitian sosial. Tetapi kemudian dikritik para pengamat sosial sendiri mulai akhir tahun 70-an dan awal 80-an, seperti Dawam Rahardjo, Adi Sasono, Abdurrahman Wahid, termasuk disertasi Zamakhsyari Dhofier di The Australian Natioanal University pada tahun 1980 mengenai ‘Tradisi Pesantren’ (Terbit sebagai buku tahun 1982 oleh LP3ES, “Tradisi Pesantren; Studi Pandangan Hidup Seorang Kyai”). Pendekatan dikhotomis ‘tradisionalis dan modernis’ dalam mengkaji pesantren, kemudian dianggap disitorsif, tidak releven, dan tidak mampu memahami secara baik perubahan keagamaan yang terjadi terkait tradisi pesantren, sebagai khazanah Islam asli Indonesia.

Baca selebihnya »

surat tentang persahabat dan permusuhan

Posted in jalan on Oktober 17, 2008 by sahhala

Salam

Kang Maman, apa kabar? Apa kabar keluarga? Apa kabar juga kota Majalengka? Meskipun terlambat, saya ingin mengucapkan selamat Lebaran. Semoga Lebaran yang telah lewat itu masih bisa menginspirasi hari ini dan hari esok. Ucapan ini juga saya tujukan ke kawan-kawan lain aktifis milist santri cirebon. Semoga kawan-kawan dalam keadaan baik dan bahagia. Amin.

Berkaitan dengan himbauan Kang Maman jangan ada permusuhan (milis Santri Cerbon, 16 Oktober 2008) saya ingin menyampaikan sesuatu mendasar, yaitu tentang dawuh dari Sahabat Ali yang Sampean sampaikan. Untuk semangat yang menyelip dari pernyataan yang katanya dari Sahabat Ali tersebut, saya 100% setuju. Tapi memang saya menangkap kejanggalan dari pernyataan tersebut. Kejanggalan itulah yang ingin kusampaikan.

Baca selebihnya »

LASKAR PELANGI: Narasi Kemenangan Islam Modernis?

Posted in minat on Oktober 14, 2008 by sahhala

Penikmat buku negeri ini disuguhi sebuah karya pertama dari seorang penulis muda yang cerdas. Karya itu berwujud novel yang berjudul Laskar Pelangi. Tampaknya para pembeli buku tidak usah menanyakan kehebatan karya Andrea Hirata. Pasalnya, sederet nama beken di dunia sastra, akademis, aktivis ormas, sineas, sudah memberikan jastifikasi bahwa Laskar Pelangi wajib dibaca semua orang.

Saya kira, pujian bahwa Laskar Pelangi itu adalah karya yang menggugah, mendidik, dan inspiratif, tidaklah berlebihan. Saya sendiri senang dan enjoy sekali membacanya. Ketika memulai baca, ingin rasanya segera menyelesaikannya. Tapi memang tidak sampai membuat saya menunda makan, atau untuk sementara mengabaikan sms yang masuk, atau menahan membuang BAB. Beda dengan membaca karya-karya Ahmad Tohari atau Pram. Membaca karya kedua sastrawan itu memang saya menunda aktivitas keseharian yang penting. Bahkan, saya bolos ngaji 2 hari sewaktu membaca Ronggeng Dukuh Paruk.

Baca selebihnya »