Arsip untuk September, 2008

Mabuk Gusti…

Posted in sumsum on September 24, 2008 by sahhala

tresnaku marang Sira ora bisa digambarna

ademe ngungkuli banyu
angete ngungkuli geni
langit kuwi wis dhuwur
langit kuwi wis dhuwur
nanging tresna ingsun
luwih dhuwur tinimbang langit pitu
bumi kuwi wis abot
nanging tresnaku ngungkuli bumi

kadhang ingsun mboten saget nahan
kados pundi  kula kagungan tresna
kadhang kula ngujaken syukur
marang Ndika Gusti
kula tasih diparingi wekdal
kangge tresnane marang
sedengah manungsa
kadang kula mboten saget
mbayangaken Gusti
umpami kula kelangan tresna
kula mboten saget lumampah
gesang malih nang ndonya

ana banyu njedul saka bumi
ngrangkul ingsun
klawan mring Sampeyan
ana banyu tiba saka langit
dadi crita critane wong urip

tresnaku marang Sira langgeng selawase
ora bakal rusak mring wektu
wektu ora bisa ngganggu marang ingsun
lamun kula sampun tresna

tresnaku marang Sira
dhuwure ngunngkuli langit
tresnaku marang Sira
segere ngungkuli banyu
tresnaku marang Sira
angete ngunngkuli geni
tresnaku marang Sira
tanpa bisa dibayanngna

BY: Slamet Gundono

saidiman atawa sayyidun man?

Posted in Uncategorized on September 22, 2008 by sahhala

Saya tergelitik membaca artikel Saudara Saidiman berjudul Tasydid di rubrik Bahasa Tempo, edisi 8-14 September 2008. Dalam membaca tulisan Arab, tanda baca tasydid memang dibaca dengan tekanan tertentu, karena memang tasydid secara bahasa berarti keras atau berat. Misalkan gabungan tiga huruf: hamzah, lam-alif: illa, yang menghasilkan makna “kecuali”. Lam pada tiga huruf tersebut di-tasydid. Hamzah yang dibaca kasroh, bertemu dengan lam tasydid yang dibaca fathah, serta alif yang mati, bila dibaca secara utuh menghasilkan bunyi double “L” (lam): illa. Double “L” tersebut dibaca dengan cara menjejakkan lidah pada bagian langit-langit mulut, dan berhenti sejenak. Lam ber-tasydid dalam Ilmu Tawjid disebut idhgham bi la ghunna. Contoh, wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin, kami tidak mengutusmu kecuali untuk sekalian alam.

Bandingkan dengan membaca gabungan dari hamzah, lam dan ya bengkok: ila, yang dalam bahasa Indonesia menghasilkan arti “ke”. Lam di sini dilafadkan biasa saja, lidahnya memenang menyentuh langit-langit mulut, tapi hanya lewat (tanpa berhenti) dan tidak dijejakkan. Contoh, ana adzhabu ila al-madrasah, saya sedang/akan pergi ke sekolah.

Baca selebihnya »

NU, Miniatur Keragaman Islam

Posted in harian on September 18, 2008 by sahhala

Nadlatul Ulama adalah satu-satunya Ormas atau kelompok Islam yang mengakomodir keragaman ajaran. Perbedaan atau khilafiyah sudah menjadi tradisi dalam dalam tubuh NU. Sehingga tidak berlebihan jika NU disebut sebagai miniatur keragaman di dalam Islam.

Demikian dikatakan staf Pengurus Pusat Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam NU) NU, Hamzah Sahal dalam acara saresehan dan buka bersama bertajuk “Menghayati Perbedaan” di Aula Institut Pertanian Bogor (12/9).

Baca selebihnya »

Kehadiran NU Respon Terhadap Wahabisme

Posted in harian on September 18, 2008 by sahhala

Kelahiran Nahdlatul Ulama salah satunya merupakan respon terhadap invasi akidah Wahabisme yang berupaya menggusur tradisi. Komite Hijaz yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Abdul Wahab Hasbullah untuk bertemu dengan raja Ibn Sa’ud, penguasa Mekah dan Madinah, adalah sebagai bentuk perlawanan ideologis terhadap Gerakan Wahabiyah.

Demikian disampaikan Alai Nadjib dalam Dialog Ramadlan dan Buka Bersama yang mengusung tema NU dan Realitas Keberagaman Islam di Ciputat (12/9/08).

Baca selebihnya »

Kaderisasi PMII di Kampus Umum Masih Lemah

Posted in harian on September 18, 2008 by sahhala

Bogor, NU Online

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) diharapkan dapat memperkuat keberadaannya di kampus-kampus umum. Selama ini kaderisasi PMII di kampus umum sangat lemah, sehingga keberadaan organisasasi kemahasiswaan berbasis Nahdlatul Ulama (NU) ini kurang marketable.

Demikian wacana yang mengemuka dalam Sarasehan Ramadhan yang digelar PMII Komisariat Instutut Pertanian Bogor (IPB) bekerjasama dengan Lembaga Korp PMII Puteri (Kopri) Pengurus Besar (PB) PMII, yang diselenggarakan di Aula Masjid Al-Huriyyah Kampus IPB Darmaga Bogor, Sabtu (13/9).

Baca selebihnya »

aku ingin menjadi nelayan

Posted in jalan on September 16, 2008 by sahhala

aku ingin menjadi nelayan

aku ingin menjadi nelayan

aku ingin menjadi nelayan

aku ingin menjadi nelayan

aku ingin menjadi nelayan

aku ingin menjadi nelayan

aku bosan menjadi orang hutan

aku bosan menjadi orang hutan

aku bosan menjadi orang hutan

aku bosan menjadi orang hutan

aku bosan menjadi orang huran

aku bosan menjadi orang hutan

aku ingin mati saat layar terbentang

aku ingin mati saat layar terbentang

aku ingin mati saat layar terbentang

aku ingin mati saat layar terbentang

aku ingin mati saat layar terbentang

aku ingin mati saat layar terbentang

bukan dalam diam yang membosankan

bukan dalam diam yang membosankan

bukan dalam diam yang membosankan

bokan dalam diam yang membosankan

bukan dalam diam yang membosankan

bukan dalam diam yang membosankan

Bulan,

aku ingin menjadi nelayan

aku bosan menjadi orang hutan

aku ingin mati saat layar terbentang

bukan dalam diam yang membosankan

Jakarta, paruh Ramadhan 1429 H

dosa

Posted in jalan on September 15, 2008 by sahhala

IMAM AL-GHAZALI menceritakan sebuah anekdot menarik yang diambil dari cerita rakyat Yahudi. Tapi saya tidak tahu, di kitab apa Al-Ghazali bercerita. Lho? Iya, saya tidak langsung membaca cerita dari kitab karya Al-Ghazali, tapi dari bukunya Farid Esack, intelektual sunni kelahiran Afrika Selatan. Dia yang bercerita. Saya lupa judul bukunya apa. Yang jelas, saya belum mendengarkan cerita ini dari mulut Hb. Riziek, Abu Bakar Ba’asyir, Arifin Ilham atau Aa Gym.

Baca selebihnya »

menguji kesabaran

Posted in ngeledek on September 8, 2008 by sahhala
ayyuhal haadiruunal kiram... ittaqullah..hatta tuqatih

ayyuhal haadiruunal kiram... ittaqullah..haqqa tuqatih

Ahmad :

“Berapa kali kau mendengarkan ceramah agama hari ini?”

Arif :

“Tujuh kali.”

Baca selebihnya »

Ramadhan, Bulan Festival Kitab Kuning

Posted in jalan on September 4, 2008 by sahhala

Ketika Ramadhan datang, saya selalu diliputi rasa ”romantisme” yang begitu mendalam. Romantisme itu meliputi banyak hal, dari mulai perilaku atau sikap hingga suasana ”alam”. Misalnya, saya merasakan ”suhu udara” di masjid-masjid atau di langgar-langgar, dan bahkan di pasar-pasar, ”meningkat”. Atau saya dengan gembira berkumpul setelah shalat tarawih untuk tadarus. Atau saya ingat misalnya, saat Ramadhan tiba, sebulan penuh saya tidur di masjid. Saat tengah malam tiba, saya dan belasan teman berebut menabuh kentongan: membagikan waktu untuk warga. Dan tak lupa, ini yang agak aneh tapi nikmat sekaligus, Ramadhan atau bulan Puasa melahirkan makanan dan minuman khas. Romantisme Ramadhan semacam ini, saya kira telah menjadi ingatan kolektif bagi setiap Muslim di manapun berada. Saat ini, romantisme tersebut telah mengalami komodifikasi, dijual di pelbagai media massa. Ramadhan dalam ilustrasi seperti ini tampak seperti karnaval rutin, sebulan dalam setahun.

Baca selebihnya »