sahhala

Duduk Perkara Bahtsul Masail Facebook

Mei 30, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Facebook” ternyata tidak saja ramai di dunia maya, tetapi juga kini ramai mewarnai wacana hukum Islam di Indonesia. Dipicu oleh hasil keputusan bahstul masa’il Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMP3) se-Jawa Timur, kemudian melebar menjadi perbincangan publik. Meski saya tidak terlibat dalam pembahasan dan perumusan, tetapi saya sudah membaca hasil keputusan mereka berikut argumen teologis dan rujukannya. Melalui tulisan ini, saya ingin memberikan penjelasan sekaligus juga catatan atas hasil bahstul masa’il itu.

Sasaran Hukum Bukan “Dzat”
Untuk menentukan status hukum sebuah obyek, perlu dibedakan antara dzat obyek itu dan pemanfaatannya. Definisi ”hukum” dalam ushul al-fiqh memang selalu terkait dengan af’al al-mukallaf (perbuatan orang yang sudah menanggung akibat hukum). Sasaran hukum adalah perbuatan mukallaf, bukan benda, alat, media, atau dzat.

Baca terus →

→ Leave a CommentKategori: minat

Isu Pengharaman Facebook Tidak Benar

Mei 30, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Jumat, 29 Mei 2009 18:03
Kediri, NU Online

Isu yang beredar tentang pengharaman facebook, sebuah jaringan komunikasi dunia maya, oleh ulama di Jawa Timur yang tersebar di sejumlah media massa ditepis oleh Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMP3) se-Jawa Timur.

Hasil bahtsul masail diniyah atau pembahasan masalah keagamaan yang
diselenggarakan forum itu pada 20-21 Mei 2009 lalu di Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadiat Lirboyo Kediri tidak memberikan fatwa haram menggunakan facebook. Beberapa wartawan yang meliput acara ini salah faham dan hanya mengambil aspek yang sensasionalnya saja.

Baca terus →

→ Leave a CommentKategori: harian

Kondisi PMII Mirip dengan NU Tahun 1973

Mei 18, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

NU-ONLINE, 12/05/2009

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dideklarasikan pada 17 April 1960, dimotori oleh kalangan muda NU yang tergabung dalam Ikatan pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Waktu itu mahasiswa NU sudah tidak nyaman di IPNU. Mungkin karena mereka sudah tidak berstatus pelajar lagi. Sementara organisasi kemahasiswaan yang ada tidak cukup bisa menjadi saluran aspirasi mahasiswa NU. Maka melalui proses yang berliku, terbentuklah PMII.

Namun pada 14 Juli 1971 melalui Deklarasi Murnajati PMII mencanangkan independensi, terlepas dari organisasi manapun, termasuk NU. Kemudian pada kongres tahun 1973 di Ciloto Jawa Barat, diwujudkanlah Manifest Independensi PMII. Inilah fase baru keterkaitan PMII dengan NU. PMII sudah bukan kepanjangan tangan NU; sudah tidak berkantor di PBNU. Hubungan PMII dan NU hanya sebatas kultural saja. Ada banyak sebab waktu itu, termasuk ketidakjelasan NU apakah sebagai ormas, atau partai politik. PMII tidak betah dengan itu. Sementara Orde Baru juga mulai melokalisir gerakan kemahasiswaan di dalam kampus masing-masing.

Masih dalam suasana peringatan hari lahir ke-49 PMII kemarin, A. Khoirul Anam dari NU Online dan Hamzah Sahal dari PP Lakpesdam NU sempat berbincang dengan salah seorang pendiri PMII M. Said Budairy di rumahnya Jl Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Sabtu (9/5). Said Budairy (73) adalah salah satu dari 13 tokoh mahasiswa dalam IPNU yang merintis pendirian PMII. Ia juga salah satu dari 3 orang perwakilan yang menghadap Ketua Umum PBNU KH Idham Kholid melaporkan rencana pendirian organisasi mahasiswa NU ini. Pada saat PMII dideklarasikan, Said Budairy menjabat sebagai sekretaris umumnya.

Baca terus →

→ Leave a CommentKategori: minat

Seorang Jie Ie

Mei 8, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Namanya MANTO, nama Tionghoa Theng Jie Ie. Lahir 1955, tanggal 1 Maret di Surabaya. Setahun setelah Jacky Chen lahir di tahun 1954. Sejak kecil tidak punya cita-cita. Sebabnya ekonomi sulit. Ia lahir setelah21 tahun pernikahan kedua orang tuanya. Sehingga Jie ie berkembang setelah kedua orang tuanya terlalu tua.

Angka tahun 21 itu diabadikan menjadi nama “Jie Ie” yang berarti 21.

Sekarang ia sering ketawa sendiri di tengah malam. Juga siang ketika bengong. Sekelilingnya berkata dia gak waras.

Sudah 2 minggu aku tinggal bersama Jie ie di rumah seorang eksportirkan hias laut bernama Handoko Yudha Prawira alias Raden The Tong An. Tong An adalah keturunan “raja kecil” yang berkuasa di Kebumen. Silsilah keluarganya bertautan dengan keluarga “Kolopaking” . Novia Kolopaking jelas satu keluarga dengan Tong An, sekalipun tidak saling mengenal. Tetapi di pohon keluarga besar bangsawan Kolopaking, nama ayah Novia masuk daftar keturunan raja-raja Kolopaking, seperti RadenThe Tong An.
Baca terus →

→ Leave a CommentKategori: minat

Sepakbola, Agama, dan Anglikan

Mei 7, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

London – Ketika beberapa waktu lalu petinggi Gereja Anglikan mengajukan permintaan kepada pemerintah agar melarang penyelenggara sepakbola Inggris untuk tidak lagi memainkan pertandingan pada hari Minggu Paskah maupun hari besar keagamaan lain, tiba-tiba saja pengertian sepakbola adalah agama di Inggris ini seperti mendapat pemaknaan yang sesungguhnya.

Munculnya permintaan dari para petinggi keagamaan Anglikan menimbulkan pertanyaan: jangan-jangan mereka memang menganggap sepakbola telah benar menjadi agama tersendiri? Bukan sekadar itu, tetapi juga jangan-jangan menganggap sepakbola telah secara langsung menganggu eksistensi Gereja Anglikan?

Baca terus →

→ Leave a CommentKategori: minat

Wajah Lain Islam Indonesia: dari Gema Takbir sampai Pencekalan

Mei 6, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Tiba-tiba istri saya memeluk erat tangan saya sambil memperlihatkan wajah pucatnya. Ia mengaku ketakutan setelah mendengar beberapa orang meneriakkan takbir. Sebuah pemandangan ironi bagi saya. Betapa tidak, ia adalah seorang sarjana Islam, berjilbab dan sehari-hari mengerjakan shalat lima waktu, pengajian dan segudang aktivitas selayaknya muslimah lain. Tidak hanya itu. Ia juga berlatar belakang keluarga agamis bahkan tinggal di rumah yang satu pelataran dengan masjid, lantas merasa ngeri mendengar takbir. Tetapi itulah yang terjadi saat itu di Hotel Accacia Jakarta. Takbir yang seharusnya mendamaikan hati pendengarnya, kali itu berubah menjadi menegangkan dan menakutkan. Dalam sejarah Islam, takbir juga biasa dipekikkan di saat-saat perang untuk membakar semangat pasukan Islam melawan kedzaliman. Tetapi tentu saja Accacia saat itu bukanlah medan perang tempat pekikan takbir sebagai peletup ghirah perlawanan dan menakutkan.

Peristiwa itu terjadi ketika saya dan beberapa orang teman menghadiri seminar bertajuk Implementasi Nilai Syari’at Islam dalam Masyarakat dan Negara Menuju Indonesia yang Religius, Adil dan Sejahtera. Dalam seminar yang digelar Lajnah Pimpinan Wilayah MMI (Majelis Mujahidin Indonesia) DKI Jakarta dan Lembaga Kajian Islam Al Manar dihadirkan pembicara pemimpin utama MMI Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ismail Yusanto dan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj (Kang Said). Ketiganya adalah tokoh Islam yang sangat disegani di Indonesia. Sebagai moderator Hamzah Sahal seorang intelektual muda Islam alumnus Pesantren Krapyak Yogyakarta.

Mengingat mayoritas hadirin dan pembicara atau barangkali semuanya Muslim. Tentu saja tidak sedikitpun perlu dikhawatirkan akan ada kekuatan lain yang membahayakan atau anti Islam. Pertanyaan saya lalu, untuk siapa takbir menakutkan itu diteriakkan. Tentu saja hadirin berharap banyak dapat menimba ilmu pengetahuan dari para nara sumber dan bisa berdiskusi. Tetapi suasananya ternyata jauh dari ilmiah bahkan menegangkan.

Baca terus →

→ Leave a CommentKategori: minat

Sebagai NU atawa Menjadi NU

Mei 6, 2009 · 1 Komentar

Dalam sebuah pengantar acara “Pendidikan ke-NU-an”, Yahya Ma’shum –salah satu Wakil ketua PP Lakpesdam NU- membedakan istilah “Sebagai NU” dan “Menjadi NU”. “Sebagai NU”, kata Yahya, adalah warga NU yang tidak menyadari ke-Nahdliyah-annya. Dia hanya menjalani qunut, debaan, tahlilan, mitung dinaan, matang puluha, tirakatan, istigosahan, niat shalat pakai usholi, rokaat tarawehnya dua puluh, mengakui kiaian atau bahkan kewalian, dan lain-lain. Baginya tetek bengek ritual atau budaya Aswaja ala Indonesia adalah given. Dia akan menjalankan ajaran-ajaran tersebut dengan patuh meskipun tidak tahu dalil dan argunemtasinya. Inilah yang sering dinilai ketaklidan.

Satu lagi kekhasan dari warga NU yang makomnya hanya “Sebagai NU”, yaitu tak tahu hal ihwal Jam’iyah NU.

Sementara itu, “Menjadi NU” adalah proses mengidentivikasi dirinya dengan segala macam yang melekat dengan NU, baik tradisinya ataupun jam’iyahnya. Warga NU pada posisi “Menjadi NU” adalah warga yang terlibat aktif. Ia aktif mencari argumentasi kenapa ada tahlilan misalnya. Dan ia paham kenapa musti berpartisipasi menjadi aktifis IPNU atau IPPNU, GP Anshor atau Fatayat, atau LDNU, Lakpesdam, Pagar Nusa, dan seterusnya. semuanya dijalani dan dialami dengan sadar.

Terus terang, saya belum pernah mendengar ada istilah “Sebagai NU” dan “Menjadi NU”. Mungkin karena saya aktifis baru di NU, belum banyak wira-wiri dan rewuh-rewuh di NU. Saya baru dua tahunan aktif di PP Lakpesdam NU. Untung saja, pada waktu itu saya menjadi panitia Pendidikan Ke-NU-an yang dilaksanakan PP Lakpesdam NU pada bulan Nopember 2008. Bersama Ufi Ulfiah, A. Fawaid Sadzili, Lilis Nurul Husna, Khamami Zada, , MS. Wa’i , Miftahhudin Bisri, saya aktif dalam rapat-rapat, mencari peserta, bikin surat-surat, menghubungi narasumber, pesan makan, cari tempat, menyiapkan plano dan spidol, dll.

Pada waktu itu, Pendidikan Ke-NU-an yang diikuti oleh 32 mahasiswa-mahasiwi dari UIN Ciputat dan satu orang dari STAINU bertempat di kantor Forum Indonesia Satu (FIS), di jalan jeruk nomor 4, Menteng, Jakarta Pusat. Dengan fasilitator masyhur dan tua, Helmy Ali. Nasihin Hasan –Ketua PP Lakpesdam NU- datang untuk membuka dan mengisi sambutan.

Aktifis PP Lakpesdam lainnya yang datang adalah Mukhlisin dan Eko AP. Ada juga Imam Malik, anak  muda NU yang giat di Sampoerna Foundation. KH. Said Aqil Sirodj, Dr. Arif Mudatsir Mandan, sera Ahmad Baso, datang sebagai narasumber.

→ 1 CommentKategori: jalan

MUSYKILAT DALAM NU

April 28, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Jama’ah milis Bahstul Masail yang terhormat.

Salam,

Ahad pagi (26/4), saya ikut Caswiyono dan Fahsin (keduanya aktifis IPNU) menemui Pak Said Budairy di rumahnya, jalan Mampang Prapatan II/74. Caswiyono dan Fahsin sowan dalam rangka memperkaya data untuk biografi almarhum Pak Tolchah Mansoer yang sedang dalam tahap akhir penulisan. Sementara saya makmum saja. Saya senang lantara rumah Pak Said tercatat dalam sejarah NU, utamanya “tim 24″, yang mengerucut jadi “Tim 7″, guna menyiapkan NU kembali ke Khitoh. Tentu yang menjadi sejarah bukan saja rumahnya, tapi juga diri Pak Said sendiri. Pak Said termasuk dalam “Tim 7″ bersama Abdurahman Wahid, Slamet Effendy Yusuf, KH. A. Mustofa Bisri, tiga orang lainnya saya lupa. Pak SEY selaku aktor utama pasti mengetahui detail-detail pertemuan-pertemuan “kelompok G”, sebutan untuk orang-orang yang sering kumpul di rumah Pak Said, yang dulunya memang bernama “Gang G”.

Sesampai di depan rumah Pak Said, saya terbengong-bengon. Bayangan saya, rumah Pak Said tidak jauh beda dari rumah Pak Hasyim Muzadi di depok, Pak Said di Ciganjur, atau Kiai Sahal di Pejaten (saya tidak tau ini rumah beliau atau cuma “ngontrak”). Punya halaman luas atau parkir luas yang cukup untuk mobil beberapa tamu atau mobilnya sendiri, sebagaimana dimiliki Pak Hasyim dan Pak Said Aqil. Tapi ternyata tidak. Pak Said tidak punya halaman. Garasinya pun sudah penuh oleh satu sedan Mitsubisi berwarna hitam (entah sedan keluaran tahun berapa. Tapi saya lihat jauh dari kesan sedang mewah). Ruang tamunya pun, alamaaaaak, kecil sekali. Hampir tertutup oleh sofa kecil berwarna biru muda yang sudah kusam, dan di sisi kanan sofa -tempat duduk Pak Said- ada yang sudah sobek sepanjang telunjuk jari saya.

Baca terus →

→ Leave a CommentKategori: jalan

menseriusi blog

April 15, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kepada

Teman-teman Komunitas Matapena yang Hebat-hebat,,

Salam

Sewaktu aku mampir di Ruma Kreatif Matapena, di Jogjakarta, Jumat, 3 April, saya sempat menggunakan fasilitas koneksi internet. Di antara yang kulakukan di sana adalah mencantelkan www.komunitasmatapena.blogspot.com dalam sahhala.wordpress.com.

Sejak itu, aku agak rutin membuka blog yang kurang baik dikelola itu…kekekeke… Beberapa bulan lalu saya juga membukanya, tapi kadang-kadang saja. blog itu belum memikat hatiku.


Baca terus →

→ Leave a CommentKategori: minat

nafas panjang berulang-ulang

April 15, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

terus terang, aku sebel menjalani 3,5 bulan terakhir ini. aku punya 33 agenda yang mestinya membuat bahagia, tapi ternyata tidak. 80% dari agenda itu memang berjalan, tp hasilnya hanya membuat nafas panjang berulang-ulang.

cuma dua agenda yang membikin saya lega. pertama, saya dapat lagi mengikuti perayaan maulid nabi di kampung, setelah 12 maulid tak pernah saya ikuti.

yang kedua,  saya dapat mengikuti kursus narasi di eka tjipta foundation.

kursus ini kujalani sebetulny cuma kebetulan saja. tak ada rencanya sebelumnya. tapi alhamdulillah, bisa kuikuti semua sesi dengan baik, kecuali sekali pertemuan saja tak bisa datang. kursus dimulai sabtu tanggal 21 februari. dan akan dipungkasi sabtu yang akan datang, 18 april. semoga saja di penghujung kursus ada yang menejutkan.

hari ini adalah bulan ke-15 di bulan april. catur wulan pertama di 2009 akan berakhir 15 hari lagi. aku bersyukur, 3,5 bulan dalam tahun 2009 telah aku lewati. saya berharap, 3,5 bulan terakhir tak akan kembali. tuhan, jangan kau hadirkan lagi januari, februari, maret, dan 1-14 april 2009. sehingga tak ada lagi nafas panjang berulang-ulang.

→ Leave a CommentKategori: sumsum